Jumat, 13 Oktober 2017

TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN MAS MANTAP

LAPORAN PRAKTEK MAGANG
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN MAS MANTAP (Cyprinus carpio L) DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT) SUKABUMI JAWA BARAT



OLEH
CONSTANTINE PURBA













FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016
LAPORAN PRAKTEK MAGANG

TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN MAS MANTAP (Cyprinus carpio L) DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT) SUKABUMI JAWA BARAT

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Ujian Praktek Magang Pada Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan Universitas Riau

OLEH
CONSTANTINE PURBA
1304115462










FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

2016


I.      PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas dan berpotensi besar untuk usaha budidaya berbagai macam jenis ikan air tawar. Budidaya perikanan merupakan usaha yang dapat dikembangkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang dapat meningkatkan taraf hidup petani ikan dan usaha budidaya ikan ini memiliki keuntungan yaitu dapat meningkatkan sumber protein, meningkatkan pendapatan masyarakat petani ikan, meningkatkan ekspor non migas serta menunjang usaha kelestarian sumberdaya hayati serta memperluas lapangan kerja.
Menurut Rukmana (2006), ikan Mas merupakan salah satu dari 15 jenis komoditas ikan yang ditujukan untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta pemenuhan untuk jenis ikan budidaya air tawar di Indonesia, memiliki daging yang putih dan lunak memungkinkan untuk dicerna oleh semua umur. Selain itu ikan Mas juga memiliki cita rasa yang sangat tinggi dan mudah dalam pemeliharaannya.
Ikan mas ( Cyprinus carpio L.) merupakan spesies ikan air tawar yang sudah lama dibudidayakan.  Di Indonesia, dikenal beberapa strain ikan Mas yang dibudidayakan, yakni Majalaya, Punten, Sinyonya, Domas, Merah/Ikan Mas Cangkringan, Kumpai dan sebagainya.
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi memperkenalkan komoditas unggul baru bernama Ikan Mas Mantap (Majalaya Tahan Penyakit). Pelepasan komoditas unggul ini telah ditetapkan pada tanggal 16 April 2015 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 24/Kepmen-KP/2015 Tentang Pelepasan Ikan Mas Mantap. Keputusan ini merupakan langkah untuk memperkaya jenis dan varietas Ikan Mas yang beredar di masyarakat yang merupakan hasil seleksi berdasarkan marka molekuler yang dilakukan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Ikan Mas ini berkembang pertama kali di daerah MajalayaKabupaten BandungJawa Barat.
Budidaya ikan Mas memiliki prospek ekonomi yang cukup tinggi, sehingga banyak disukai oleh konsumen. Selain itu ikan Mas juga dikenal memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat sehingga sangat baik untuk dibudidayakan.
Anak ikan yang baru menetas disebut larva dimana tubuhnya belum dalam keadaan sempurna, baik organ dalam maupun organ luarnya. Tahap larva adalah tahapan paling kritis dalam kehidupan ikan karena banyak faktor penyebab mortalitas mulai dari larva menetas ke alam sampai dapat mencari makanan sendiri.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik melakukan praktek magang dengan judul teknik pemeliharaan larva ikan Mas serta ingin mengetahui secara langsung mengenai teknik pemeliharaan larva ikan Mas dan tingkat pertumbuhannya di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.
1.2.Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktek magang ini adalah untuk mengetahui secara langsung teknik pemeliharaan larva ikan Mas Mantap (C. carpio L) di BBPBAT Sukabumi dan mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam proses pemeliharaan larva serta mencari pemecahan dari masalah tersebut.
Adapun manfaat dari praktek magang ini adalah dapat menambah pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan memperluas wawasan dalam bidang perikanan, khususnya dalam pemeliharaan larva ikan Mas (C. carpio L).














II.         TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas Mantap
Ikan Mas dapat diklasifikasikan secara taksonomi sebagai berikut:  Filum : Chordata, Kelas : Pisces, Ordo : Ostariophysi, Famili : Cyprinidae, Genus : Cyprinus, Species : Cyprinus carpio, L. (Susanto, 2007) (Gambar 1).
Gambar 1. Ikan Mas Mantap (C. carpio L)
Ikan Mas Mantap ini berkembang pertama kali di daerah MajalayaKabupaten BandungJawa Barat. Ukuran badannya relatif pendek dan punggungnya lebih membungkuk dan lancip dibandingkan dengan ras ikan mas lainnya. Perbandingan antara panjang dan tinggi tubuhnya adalah 3,2:1. Bentuk tubuhnya semakin lancip ke arah punggung dan bentuk moncongnya pipih. Sifat ikan mas ini relatif jinak dan biasa berenang di permukaan air. Sisiknya berwarna hijau keabuan dan bagian tepinya berwarna lebih gelap, kecuali di bagian bawah insang dan di bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung, warna sisik ikan ini semakin gelap. ( Khairuman dkk., 2008).

2.2. Habitat dan Penyebaran Ikan Mas
Ikan Mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan Mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150–600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan Mas terkadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30% (Khairuman dkk, 2008).
Menurut Suseno (2004), ikan Mas di Indonesia berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat penting. Ikan Mas awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan Mas diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat sudah menggunakan kakaban untuk pelekatan telur ikan Mas yang terbuat dari ijuk pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan Mas kolam didaerah Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
2.3. Kebiasaan Makan Ikan Mas
Ikan Mas tergolong jenis omnivora, yakni organisme yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepi perairan (Khairuman dkk, 2008).
Pada umur muda (ukuran 10 cm) ikan Mas senang memakan jasad hewan atau tumbuhan yang hidup didasar perairan/kolam, misalnya Chironomidae, oligochaeta, tubuficidae, epimidae, trichoptera, molusca dan sebagainya. Selain itu ikan mas juga memakan protozoa dan zooplankton seperti copepoda, dan cladocera. Hewan-hewan kecil tersebut disedot bersama lumpurnya, diambil yang dapat dimanfaatkan dan sisanya dikeluarkan melalui mulut (Suseno, 2004)
Ikan mas sering mencari sumber makanan (jasad-jasad renik) disekeliling pematang. Oleh sebab itu pematang sering rusak dan longsor karenanya. Ikan mas juga suka mengaduk-aduk dasar kolam untuk mencari makanan yang bisa dimanfaatkan seperti larva insecta, cacing-cacingan dan lain sebagainya. Aktifitas ini akan membantu kawanan benih mencari makanan,karena binatang-binatang di dasar kolam yang teraduk ke atas dapat menjadi santapan lezat bagi benih. Dengan kebiasaan seperti ini akan mempermudah bagi kita mengetahui apa kemauan ikan tersebut (Santoso, 1995).
2.4. Pemeliharaan Larva
Larva yang baru keluar dari cangkang telur digolongkan sebagai prolarva dengan ciri-ciri larva belum memiliki bukaan mulut, sirip belum terbentuk sempurna, membawa kuning telur sebagai cadangan makanan selama masa pro larva. Lamanya masa menjadi prolarva atau sampai habis kuning telur bervariasi untuk setiap spesies ikan, biasanya sekitar 3-7 hari. Cepat lambatnya habis cadangan makanan berupa kuning telur dapat dipengaruhi oleh : jumlah kuning telur yang dibawa telur, faktor fisiologis selama masa embriologi, kondisi lingkungan seperti suhu perairan, dan sifat spesies itu sendiri. Sesudah habis cadangan makanan berupa kuning telur maka larva memasuki periode post larva dan pada saat ini bukaan mulut sudah terbentuk dan beberapa organ tubuh mulai terbentuk sempurna serta mulai difungsikan (Dahuri, 2002).
Sehari setelah menetas, larva akan menempel pada kakaban. Oleh karena itu, kakaban sebaiknya diangkat pada 2-3 hari kemudian setelah telur menetas. Larva umur 2-3 hari dapat dipindahkan ke kolam pendederan pertama. Jika kolam pendederan belum siap, larva tetap dirawat di dalam hapa. Pakan awal untuk larva tersebut dapat berupa suspensi kuning telur yang diberikan 5 kali sehari (1 butir untuk sekitar 100.000 larva). Lama pemeliharaan larva di dalam hapa sebaiknya tidak lebih dari 5 hari (Sucipto, 2012)
Setelah telur menetas, larva ikan mas akan terlihat jelas jika sedang bergerak. Pasca pemijahan adalah kegiatan yang dilakukan untuk pemeliharaan larva mulai penetasan hingga ukuran benih. Pada kegiatan ini yang terpenting adalah menentukan jenis pakan yang cocok selama pemeliharaan. Larva yang berumur 5-6 hari bentuknya telah menyerupai bentuk ikan yang sebenarnya, dan telah dapat dikatakan benih yang siap untuk dipelihara (Sukendi, 2006)
Menurut Jangkaru (2007), fase larva merupakan masa kritis dalam daur hidup ikan sehingga tingkat kematian atau mortalitas pada fase ini sangat tinggi. Banyak faktor yang menyebabkan tingkat mortalitas pada fase larva menjadi tinggi. Faktor penyebab tersebut dapat digolongkan dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari proses perkembangan biologi larva itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal antara lain penyakit, hama, kualitas air, cuaca dan pakan.
2.5. Pemberian Pakan
Menurut Sitanggang (2000) pemberian pakan larva ikan mas sebaiknya adalah dalam jumlah sedikit tetapi sering, biasanya 3-4 kali. Memberi pakan lebih sering dengan jumlah yang sedikit akan lebih baik jika dibandingkan dengan memberi pakan dengan frekuensi yang lebih sedikit dengan jumlah yang banyak.
Pakan yang diberikan pada larva ikan sebaiknya adalah pakan alami, karena selain sebagai sumber karbohidrat, lemak, protein juga pakan alami yang bergerak tidak begitu aktif dan memungkinkan untuk mempermudah larva memangsanya (Anonim, 2013)
Menurut Boer (2010), jumlah bahan pakan yang dibutuhkan oleh ikan sangat bervariasi dan ditentukan oleh jenis makanan itu sendiri. Makanan yang baik adalah makanan yang dapat dimanfaatkan untuk membentuk jaringan tubuh. Badan akan berkurang apabila jumlah energi minimum yang dibutuhkan belum terpenuhi. Perbedaan pokok antara makanan ikan dan makanan hewan peliharaan lainnya adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk mensintesa protein jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan hewan berdarah panas.
2.6. Pertumbuhan Ikan Mas
Menurut Effendi (1997) pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dalam individu adalah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Pertambahan tersebut akan menyebabkan panjang dan berat pada organisme.
Menurut Susanto (2006) dalam Widiastuti (2009) pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kepadatan ikan. Semakin tinggi kepadatan maka pertumbuhan semakin rendah, namun produksi tinggi. Sedangkan semakin rendah kepadatan maka pertumbuhan semakin tinggi,namun produksi rendah. Hal tersebut disebabkan karena kondisi wadah yang semakin padat menyebabkan ikan stres dan nafsu makan berkurang, sehingga laju pertumbuhan lambat.
Selain itu, Fujaya (2004) dalam Widiastuti (2009) menambahkan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh genetik, hormon, dan lingkungan. Genetik dan hormon sangat dipengaruhi oleh kualitas indukan. Oleh karena itu, induk harus dipilih sebelum dipijahkan.
Huet dalam Royani (2008) juga menjelaskan bahwa padat penebaran mempunyai hubungan erat dengan pertumbuhan, karena semakin tinggi padat penebarannya maka semakin rendah pertumbuhannya.
Handajani dan Widodo (2010), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah dari faktor ikannya sendiri, lingkungan makanan yang diberikan, dan juga kualitas air seperti, suhu, oksigen, dan amoniak (NH3).
2.7. Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air termasuk faktor yang paling menentukan dalam budidaya ikan Mas. Sumber air yang baik dalam pembenihan dan pembesaran ikan Mas adalah pada suhu 250-300C, oksigen terlarut (DO) diatas 3 ppm, pH 6,7-8,0 dan amoniak 0,1 ppm (Hernowo, 2005)
Kualitas air yang memenuhi syarat sebagai media hidup ikan Mas adalah sebagai berikut : 1) DO dalam air paling ideal besar dari 2 mg/L; 2) kandungan CO2 dalam media pemeliharaan berkisar ntara 012 mg/L; 3) kisaran pH air antara 6,5-8,5. 4). Suhu air berkisar 26-28oC. 5) kandungan Amoniak pada media pemeliharaan kecil dari 0,02 mg/L dan kandungan Nitrit kecil dari 0,1 mg/L  (Khairuman dkk., 2008).
Handayani dan Widodo, (2010) mengatakan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kehidupan ikan secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan peningkatan suhu sampai batas tertentu yang dapat menekan kehidupan ikan dan juga bahkan menyebabkan kematian, hal ini disebabkan oleh kelarutan gas-gas dalam air termauk oksigen, semakin tinggi suhu maka semakin kecil kelarutan oksigen dalam air.
2.8. Hama Dan Penyakit
Serangan hama dan penyakit merupakan salah satupenyebab gagalnya usaha budidaya ikan Mas. Tidak jarang, ikan Mas yang akan dipanen mengalami kematian klarena serangan penyakit. Serangan penyakit biasanya menimbulkan kerugian yang lebih besar dibandingkan dengan serangan hama (Khairuman dkk., 2008).
Hama dikenal sebagai predator atau pemangsa yang hidup di air atau di darat. Jenis hama yang umum menyerang ikan Mas adalah biawak, ular, linsang, kodok, beberapa jenis burung (misalnya burung blekok, burung kuntul, dan burung bangau) dan kelompok hewan air berukuran kecil seperti ucrit, notonecta dan kini-kini (Khairuman dkk., 2008).
Menurut Khairuman dkk. (2008), penyebab penyakit pada ikan ada dua, yakni jasad hidup dan bukan jasad hidup. Jasad hidup yang menyebabkan penyakit pada ikan adalah parasit. Contoh parasit yang menyerang ikan mas adalah virus, jamur, bakteri, protozoa, cacing, dan udang renik. Sementara itu, penyebab penyakit yang bukan termasuk jasad hidup adalah sifat fisika air, sifat kimia air, dan pakan yang kurang cocok untuk kehidupan ikan Mas.





III.      METODE PRAKTEK
3.1. Waktu Dan Tempat
Praktek magang ini telah dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2016 sampai tanggal 26 Februari 2016 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar, Sukabumi Jawa Barat.
3.2. Bahan Dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam pemeliharaan larva ikan Mas di  BBPBAT Sukabumi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Bahan yang digunakan dalam Pemeliharaan Larva ikan Mas
No
Bahan
Fungsi
1
2
3
4
5
6
Larva ikan Mas
Telur dan susu
Pakan komersil/pakan bubur
Dedak
Ragi instan dan larutan EM4
Kapur
Sebagai objek pengamatan
Sebagai pakan emulsi larva selama 7 hari
Pakan larva selama 18 hari
Sebagai fermentasi pemupukan
Untuk mempercepat proses fermentasi

Adapun alat yang digunakan dalam pemeliharaan larva ikan Mas di  BBPBAT Sukabumi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Alat yang digunakan dalam Pemeliharaan Larva Ikan Mas
No
Alat
Fungsi
1
Hapa
Wadah pemeliharaan larva ikan Mas 2-3 hari
2
Timbangan analitik
Menimbang bobot tubuh larva ikan Mas
3
Ember
Wadah pembuatan pakan bubur larva ikan Mas
4
Scopnet
Menangkap larva ikan Mas
5
Timbangan
Untuk menimbang bahan pemupukan dan pengapuran
6
Mesin genset/mesin listrik
Penerangan dan pengaliran air ke kolam ketika kemarau
7
Kamera
Untuk dokumentasi
8
Alat Tulis
Untuk mencatat data
9
Termometer
Mengukur suhu kolam
10
Kertas pH
Mengukur derajat asam-basa perairan
11
Aerator
Sebagai pensuplai oksigen dalam kolam

3.3. Metode Praktek
            Metode yang digunakan dalam praktek ini adalah praktek langsung. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari wawancara dengan pegawai, Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi serta mengikuti aktivitas dan melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan larva ikan Mas (C. carpio L). Data sekunder diperoleh dari instansi terkait yang berhubungan dengan data yang diperlukan, serta ditambahkan dengan literatur yang mendukung kelengkapan dan kejelasan mengenai data yang didapatkan tersebut.
3.4. Prosedur Kerja

3.4.1 Persiapan Wadah

Sebelum dilakukan pemeliharaan larva, kegiatan utama yang harus diperhatikan adalah persiapan wadah. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan larva berumur 2-3 hari berupa kolam beton berukuran 15x20 m dimana pada kolam diberi hapa berukuran 6x4 m dengan ukuran mata jaring 0,1 (hapa hijau). Sebelum itu kolam dikuras dan dibersihkan, kemudian dikeringkan dan diisi air kembali. Untuk pemeliharaan larva berumur 4-20 hari wadah yang digunakan yaitu kolam tanah berukuran 25x20 m sebanyak 3 kolam. Sebelum larva ditebar maka kegiatan pertama adalah persiapan wadah/kolam dengan mengeringkan dan membersihkan kolam, membuang sampah yang ada di kolam, memperbaiki tanggul kolam serta memperbaiki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Setelah itu dilakukan pembalikan tanah bertujuan agar zat-zat beracun seperti amoniak dan patogen penyakit yang terkandung dalam lumpur dapat terangkat dan hilang dengan proses pengeringan selama 1-2 hari. Kegiatan selanjutnya dilakukan pengapuran bertujuan untuk menetralkan pH dan mematikan hama dan parasit ikan. Kapur yang digunakan sebanyak 25 kg untuk kolam seluas 500 m2 dan dikeringkan 1-2 hari. Setelah proses pengapuran selesai, kolam diisi air sekitar 50-60 cm dan dibiarkan aliran air kolam bertambah sedikit demi sedikit, kemudian dilakukan pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk fermentasi. Bahan yang digunakan 10 kg dedak padi, 250 gr ragi instan dan 250 ml larutan EM4 dan 10 liter air yang dicampurkan dan diaduk secara merata dan dibiarkan selama 1-2 hari, pupuk fermentasi ditebar pada sudut kolam dan ditengah kolam. Pemupukan ini dilakukan bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami sebagai pakan tambahan pada larva ikan Mas.

3.4.2 Pemeliharaan Larva

Larva ikan Mas yang baru menetas akan menempel pada kakaban. Oleh karena itu, kakaban diangkat pada 2-3 hari kemudian setelah telur menetas. Larva berumur 2-3 hari biasanya masih dibekali cadangan makanan yang berupa kantong kuning telur atau egg yolk, cadangan makanan ini cukup hingga 3-4 hari. Larva umur 2-3 hari dipindahkan ke 3 kolam tanah dengan masing-masing padat tebar 250.000 ekor/500m3. Kolam diberi label H1, H2, dan H3 dengan kedalaman 80-100 cm dengan kolam sistem terbuka.
Pada pemeliharaan larva dilakukan sampling sebanyak 2 kali yaitu saat larva berumur 10 hari dan larva berumur 18 hari sebanyak 30 ekor perkolamnya. Parameter yang diukur yaitu laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva dengan rumus yang dipakai menurut NRC (1993) sebagai berikut :

a.    Laju Pertumbuhan Harian (LPH)
Keterangan :
α    = Laju pertumbuhan harian (%)
Wo = Bobot rata-rata ikan uji pada awal pengamatan (gr)
Wt  = Bobot rata-rata ikan uji pada akhir pengamatan (gr)
  t    = Lama penelitian (hari)
b.    Laju Pertumbuhan Mutlak (LPM)
Keterangan :
LPM  = Laju pertumbuhan mutlak (%)
Bo     = Bobot rata-rata ikan uji pada awal pengamatan (gr)
Bt     = Bobot rata-rata ikan uji pada akhir pengamatan (gr)
  t     = Lama penelitian (hari)                                        
c.    Tingkat kelulushidupan ikan, Survival rate (SR)
SR   = Kelulushidupan ikan (%)
No   = Jumlah  ikan uji pada awal pengamatan (gr)
Nt    = Jumlah ikan uji pada akhir pengamatan (gr)
3.4.3 Pemberian Pakan
Dalam pemeliharaan larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi terdapat 2 macam pemberian pakan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami diperoleh dari hasil pemupukan yang telah dilakukan pada saat persiapan kolam. Selain pakan alami yang sudah tersedia di kolam, larva berumur 4-7 hari juga diberi pakan emulsi berupa 2 butir telur dan 1 sachet susu yang dicampurkan dengan air sebanyak 1,7 liter. Dosis 2 butir telur dan 1 sachet susu ini untuk 1 kolam. Setelah larva mencapai umur 8 hari maka diberi pakan tambahan berupa pakan komersil yaitu pakan tenggelam sebanyak 1 kg/kolam dengan cara pakan tersebut ditambahkan air hingga menjadi bubur dan ditebar secara merata pada kolam. Cara pemberian pakan ditebar secara merata pada kolam dan frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi (pukul 07.30-08.00) dan sore (pukul 14.00-14.30).
3.4.4 Pengelolaan Kualitas Air
Dalam pemeliharaan larva selain persiapan wadah dan pakan, pengelolaan kualitas air juga sangat perlu diperhatikan karena kualitas air yang baik juga memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pengukuran kualitas air secara langsung dilakukan yaitu mengukur suhu kolam dengan menggunakan termometer dan mengukur pH kolam dengan pH indikator sedangkan untuk mengukur DO, CO2 dan Amoniak dilakukan dengan mengambil sampel air dalam botol BOD dan diukur di laboratorium kualitas air BBPBAT oleh pegawai yang bersangkutan dalam laboratorium kualitas air tersebut serta melakukan dokumentasi selama pemeliharaan yang dilakukan dan dokumentasi proses praktek yang dilaksanakan di BBPBAT, Sukabumi.
3.4.5 Pengendalian Hama Dan Penyakit
            Dalam pemeliharaan larva tidak selamanya berjalan lancar, akan ada kendala yang dihadapi seperti serangan penyakit, hama serta predator yang menyerang. Oleh karena itu dilakukan sampling 5 ekor larva ikan Mas yang akan diperiksa dilaboratorium Kesehatan Ikan BBPBAT Sukabumi. Untuk mengetahui apakah jenis penyakit yang menyerang larva ikan Mas serta mengetahui cara penanggulangannya
IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Lokasi Praktek Magang
4.1.1.  Sejarah Berdirinya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar   (BBPBAT) Sukabumi
BBPBAT Sukabumi dalam perkembangannya sejak didirikan mengalami beberapa kali perubahan nama diantaranya :
1.      Pada tahun 1914-1942 lembaga ini diberi nama Culturschool atau Landbow oleh Negara Belanda;
2.      Pada tahun 1943-1945 oleh Jepang diberi nama Nogyo Gako;
3.      Pada tahun 1946-1947 diberi nama Sekolah Pertanian Menengah;
4.      Pada Tahun 1948-1949 diberi nama Landbouw School dibawah Departemen Van Ekonomishe Zaken;
5.      Pada Tahun 1949-1953 diberi nama Sekolah Pertanian Menengah (SPM) dibawah Depertemen Pertanian;
6.      Pada tahun 1953-1962 diberi nama Bagian Pendidikan Pusat Jawatan Perikanan Darat;
7.      Pada tahun 1962-1966 diberi namaPusat Pelatihan Perikana;
8.      Pada tahun 1966-1969 diberi nama Dinas Penyuluhan Perikanan Darat;
9.      Pada tahun 1969-1975 diberi nama  Training Center Perikanan;
10.  Pada tahun 1971978 diberi nama Pangkalan Pengembangan Pola Keterampilan Budidaya Air Tawar;
11.  Pada tahun 1978-2006 diberi nama Balai Budidaya Air Tawar (BBAT);
12.  Pada tahun 2006-2014 diberi nama Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT); dan
13.  Pada tahun 2014 sampai sekarang berubah nama menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT).
4.1.2.      Letak Geografis Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
BBPBAT Sukabumi adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal  Perikanan Budidaya yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 6/PERMEN-KP/2014. Lokasi balai di di kota Sukabumi sekitar 112 km arah tenggara Jakarta. Menempati areal seluas 25,6 hektar yang terdiri dari 10 hektar perkolaman, 12,6 hektar lahan sawah dan kebun serta 3 hektar perkantoran, laboratorium, wisma tamu dan sarana pendukung lainnya. Lokasi tersebut terhampar di ketinggian 700 m diatas permukaan laut dengan suhu harian berkisar antara 22-27°C. Air yang dimanfaatkan berasal dari sumber air tanah serta air permukaan dari Sungai Panjalu, Sungai Cipelang dan Sungai Cisarua.
4.1.3.      Struktur Organisasi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Struktur organisasi di BBPBAT Sukabumi terdiri dari Kepala Balai, Bagian Tata Usaha, Sub Bagian Kepegawaian, sub bagian Keuangan dan Umum, Bidang Uji Terap Teknik dan Kerjasama, Seksi Terap Uji Teknik, Seksi Kerjasama Teknik dan Informasi,  Bidang Pengujian dan Dukungan Teknis, Seksi Produksi dan Pengujian, Seksi Dukungan Teknis. Kelompok Jabatan Fungsional  Struktur organisasi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 2.

Kepala Balai

Bagian Tata Usaha
 


           
Sub Bagian Kepegawaian
Sub Bagian Keuangan & Umum
Bidang Uji Terap Teknik dan Kerjasama
Bidang Pengujian dan Dukungan Teknis
Seksi Produksi dan Pengujian
Seksi Dukungan Teknis
Seksi Terap Uji Teknik
Seksi Kerjasama Teknik dan Informasi
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
 















Gambar 2 . Struktur Organisasi BBPBAT Sukabumi
4.1.4.      Visi dan Misi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, visi dan misi Balai BBPBAT Sukabumi adalah sebagai berikut :
a.         Visi
Mewujudkan Balai sebagai institusi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan sistem usaha budidaya air tawar yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.
b.        Misi
                       ·            Meningkatkan kapasitas kelembagaan
                       ·            Mengembangkan rekayasa tehnologi budidaya berbasis akua bisnis serta alih tehnologi kepada dunia usaha.
                       ·            Mengembangkan informasi sistem iptek perikanan.
                       ·            Meningkatkan jasa pelayanan dan sertifikasi.
                       ·            Memfasilitasi upaya pelestarian sumber daya ikan dan lingkungan.
4.1.5.      Tugas Pokok Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Menurut peraturan menteri tersebut, tugas BBPBAT adalah:
1        Melaksanakan uji terap teknik dan kerja  sama,pengelolaan produksi, pengujian laboratorium, mutu  pakan, residu, kesehatan ikan dan lingkungan, bimbingan teknis perikanan budidaya air tawar.
Adapun fungsinya adalah sebagai berikut:
1.      Identifikasi dan penyusunan rencana  program  teknis dan anggaran, pemantauan dan evaluasi serta laporan;
2.      Pelaksanaan uji terap teknik perikanan budidaya air tawar;
3.      Pelaksanaan penyiapan bahan standardisasi perikanan budidaya air tawar;
4.      Pelaksanaan sertifikasi sistem perikanan budidaya air tawar;
5.      Pelaksanaan kerja sama teknis perikanan air tawar;
6.      Pengelolaan dan  pelayanan  sistem  informasi, dan publikasi  perikanan budidaya air tawar;
7.      Pelaksanaan layanan  pengujian laboratorium persyaratan  kelayakan teknis perikanan budidaya air tawar;
8.      Pelaksanaan  pengujian mutu pakan,  residu, serta  kesehatan ikan dan lingkungan budidaya air tawar;
9.      Pelaksanaan bimbingan teknis laboratorium pengujian; pengelolaan  produksi induk unggul, benih  bermutu, dan sarana  produksi perikanan budidaya air tawar;
10.  Pelaksanaan bimbingan teknis perikanan budidaya air tawar; dan
11.  Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
4.1.6.       Komoditas yang dikembangkan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
4.1.6.1. Komoditas Unggulan
       1. Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.)
       2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
       3. Ikan Mas (Cyprinus carpio)
4.1.6.2. Komoditas Andalan
1. Ikan Patin (Pangsius hypopthalmus)
2. Ikan Gurame (Oreochromis gouramy)
3. Ikan Baung (Mystus nemurus)
4. Ikan Grasscarp (Ctenophary ngodonidella)
5. Ikan Mola (Hypopthalmic thysmolitrix)
6. Ikan Nilem (Osteochilus vittatus)
7. Ikan Koi (Cyprinus carpio)
8. Ikan Koki (Carassius auratus)
9. Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
10. Sidat (Angulilla anguilla)
4.1.6.3. Jenis Ikan Hasil Perekayasaan Atau Pemuliaan Yang Telah Dirilis
       1. Lele Sangkuriang (Clarias sp.)
       2. Lele Sangkuriang 2 (Clarias sp.)
       3. Nila Gesit (Oreochromis niloticus)
       4. Nila Sultana (Oreochromis niloticus)
       5. Huna Capit Merah (Cherax guadricarinatus)
       6. Huna Biru (Cherax albertisii)
4.1.7.       Kepegawaian Balai di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Struktur BBPBAT dilengkapi 128 orang pegawai yang terbagi dalam kelompok structural yaitu Kepala Balai, Tata Usaha, Pengujian dan Dukungan Teknis, dan Uji Terap Teknik  dan Kerjasama. Sedangkan kelompok fungsional, yaitu : Perekayasa , Teknisi Litkayasa, Pengawas Benih, Pengawas Budidaya, Pengendali Hama dan Penyakit, Pustakawan yang dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Pegawai Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi
NO

PROFESI
PENDIDIKAN
JUMLAH
S2
S1/D4
D III
SLTA
SLTP
SD
1
STRUKTURAL






 5 I

Kepala balai
 1
 -
 -
 -
 -
 -
   1

 

Tata usaha
 -
 4
 4
18
 -
 1
 27

Pengujian dan dukungan teknis
 -
 1
 2
15
 -
 -
 18

Uji terap teknik dan kerjasama
 -
 4
 -
  1
 -
 -
  5
2
FUNGSIONAL






 77

Perekayasa
16
 9
 -
 -
 -

 25

Litkayasa
 -
 7
 6
15
 -

 28

Pengawas dan phpi
 -
13
 3
  5
 -

 21

Pustakawan
 -
 -
 -
  1
 -

   1

Penata humas
 -
 -
 1
  1
 -

   2
        JUMLAH TOTAL
17
38
16
56
 0
 1
128
4.1.8.      Sarana dan Prasarana di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
BBPBAT Sukabumi memiliki beberapa sarana dan prasarana guna melancarkan seluruh kegiatan balai. Sarana berupa peralatan ataupun bangunan yang berkaitan langsung dengan kegiatan operasional sehari-hari dalam pengelolaan usaha budidaya, sementara prasarana berupa peralatan ataupun bangunan yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan operasional sehari-hari dalam pengelolaan usaha budidaya. Sarana dan prasarana yang dimiliki adalah sebagai berikut :
·                 Sarana di BBPBAT Sukabumi
a.    Bak Pembenihan
Sarana bak pembenihan indoor maupun outdoor digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembenihan (ikan dan udang) yang meliputi kegiatan pemeliharaan induk dan larva.
b.      Kolam
Kegiatan penerapan teknologi budidaya atau pembesaran ikan, udang dan komoditas lain tersedia petakan kolam dengan rincian jumlah 130 kolam, terdiri dari kolam induk, kolam benih dan kolam pendederan. Komoditas yang di kembangkan meliputi ikan nila (Oreochromis sp.), ikan mas (Cyprinus carpio L.), ikan lele (Clarias gariepinus), ikan patin (Pangasius hypophtalmus), ikan baung (Mystusne murus), ikan mola (Hypopthalmicthys molitrix), ikan koan (Ctenopharyngodon idella), ikan hias, dan udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man), kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw). Terdapat pula instalasi dengan rincian 24 KJA di Cirata, 28 kolam air deras di Cisaat dan hatchery udang galah di pelabuhan Ratu.
c.    Laboratorium
Beberapa unit laboratorium telah dioperasionalkan guna menunjang pencapaian produksi dan penerapan teknik budidaya berwawasan lingkungan. Laboratorium tersebut meliputi dari laboratorium kesehatan ikan, kualitas air, pakan dan karantina.
d.   Jaringan Air Tawar
Air tawar merupakan kebutuhan utama dalam kegiatan pembenihan dan pembesaran. BBPBAT Sukabumi memiliki jaringan air tawar dalam komplek pembenihan dan perkantoran yang dilengkapi dengan tandon, tower serta jaringan aerasi pada setiap hatchery.
e.    Jaringan Listrik
Listrik merupakan salah satu pendukung utama kegiatan balai secara umum. Listrik diperlukan secara selama 24  jam. Pembangkit tenaga listrik yang digunakan berasal dari jaringan PLN dan terdapat genset yang digunakan untuk menanggulangi sewaktu-waktu aliran listrik PLN mengalami gangguan atau padam.
f.     Sistem Aerasi
Aerasi berfungsi untuk meningkatkan kandungan oksigen yang larut dalam air dan memercepat proses penguapan gas-gas beracun seperti H2S (Hidrogen Sulfida) dan NH3 (Amonia). Agar kebutuhan oksigen terpenuhi, maka diperlukan peralatan seperti blower, pipa distribusi, selang aerasi dan batu aerasi.



·                      Prasarana di BBPBAT Sukabumi

a.    Transportasi
            BBPBAT Sukabumi dilengkapi dengan sarana transportasi. Berupa satu unit mobil klinik kesehatan yang digunakan untuk survei dan pengambilan sampel kesehatan ikan yang dioperasikan oleh kelompok kerja kesehatan ikan, satu unit mobil fan hi lux pengangkut benih dan pakan pada jarak dekat, serta satu satu unit truk  mini untuk mengangkut pakan dan benih dalam jumlah yang lebih besar pada jarak tempuh yang lebih jauh.
b.    Bangunan Prasarana Lain
Bangunan yang dimiliki BBPBAT Sukabumi berupa gedung perkantoran, laboratorium, bangsal pembenihan, auditorium, garasi, guest house, rumah dinas dan pos satpam. Gedung perkantoran meliputi gedung utama yang digunakan untuk perpustakaan, ruang rapat, ruang para pejabat struktural beserta staf. Selain itu, BBPBAT Sukabumi juga memiliki prasarana berupa jalan aspal yang menghubungkan perkantoran dan perumahan serta kompleks kolam. Prasarana lain berupa masjid sebagai sarana ibadah.
c.    Sistem Informasi dan Komunikasi
Sistem informasi yang tersedia di BBPBAT Sukabumi adalah website resmi dan brosur. Sedangkan sistem komunikasi yang digunakan adalah telepon, Faksimile dan Email. Sistem komunikasi ini dapat mendukung dan mempermudah setiap aktivitas BBPBAT Sukabumi baik didalam maupun diluar balai.


4.2 Pemeliharaan Larva
4.2.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan Larva
Sebelum dilakukan pemeliharaan larva, kegiatan utama yang harus diperhatikan adalah persiapan wadah. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan larva berumur 2-3 hari berupa kolam beton dimana pada kolam diberi hapa berukuran 6x4 m dengan ukuran mata jaring 0,1 (hapa hijau). Sebelum itu kolam dikuras dan dibersihkan, kemudian dikeringkan dan diisi air kembali.
Pemeliharaan larva yang baru menetas dilakukan di hapa selama 3 hari. Selama larva dipelihara dihapa tidak diberi makan, hal ini disebabkan masih adanya kuning telur sebagai cadangan makanannya. Setelah 3 hari sejak telur menetas dilakukan pemanenan, dimana larva sudah dapat berenang bebas dan tubuhnya sudah berwarna coklat kehitaman sehingga larva siap untuk dipindahkan ke kolam tanah.
Pemeliharaan larva berumur 4-18 hari, wadah yang digunakan yaitu kolam tanah berukuran 25x20 m sebanyak 3 kolam. Sebelum larva ditebar maka kegiatan pertama adalah persiapan wadah/kolam dengan mengeringkan dan membersihkan kolam, membuang sampah yang ada di kolam, memperbaiki tanggul kolam serta memperbaiki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Setelah itu dilakukan pembalikan tanah bertujuan agar zat-zat beracun seperti amoniak dan patogen penyakit yang terkandung dalam lumpur dapat terangkat dan hilang dengan proses pengeringan selama 1-2 hari.
Kegiatan selanjutnya dilakukan pengapuran bertujuan untuk menetralkan pH dan mematikan hama dan parasit ikan. Kapur yang digunakan sebanyak 25 kg untuk kolam seluas 500 m2. Kapur yang sudah dicampurkan dengan air ditebar merata pada kolam. Setelah proses pengapuran selesai, kolam diisi air sekitar 50-60 cm dan dibiarkan aliran air kolam bertambah sedikit demi sedikit, kemudian dilakukan pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk fermentasi yang telah dibuat 2 hari sebelum penebaran. Bahan yang digunakan yaitu 10 kg dedak padi, 250 gr ragi instan dan 250 ml larutan EM4 dan 10 liter air yang dicampurkan, diaduk secara merata dan dibiarkan selama 1-2 hari, pupuk fermentasi ditebar pada sudut kolam dan ditengah kolam. Pemupukan ini dilakukan bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami sebagai pakan tambahan pada larva ikan Mas, sebagaimana terlihat pada Gambar 3.
 





                                           (a)                                                (b)                                
Gambar 3. Pengapuran di kolam (a) dan penebaran pupuk fermentasi (b)    
4.2.2. Penebaran Larva
Larva berumur 3 hari yang masih berada pada kakaban dipindahkan ke kolam tanah dengan cara kakaban di angkat dengan perlahan agar larva tidak mengalami stress. Kemudian larva dipanen dan siap untuk ditebar. Larva yang ditebar sebanyak 750.000 ekor pada 3 kolam dengan masing-masing 250.000 larva. Kolam tanah yang digunakan sebagai wadah pemeliharaan larva berukuran 25x20 m berarti padat tebar pada tiap kolam 500 larva/m3 (Gambar 4). Penebaran larva dilakukan dengan cara memasukkan larva ke kantong plastik dan diaklimatisasi ke kolam tanah selama 5 menit dan kemudian ditebar secara perlahan hingga larva keluar berenang dengan sendirinya ke kolam.
(a)
(b)
Gambar 4. Pemeliharaan larva selama 3 hari di hapa (a) dan 4-18 hari di kolam tanah (b)
Pemeliharaan larva ini dibutuhkan untuk melihat bagaimana laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva yang berada pada kolam tanah.
4.2.3 Pemberian Pakan
Dalam pemeliharaan larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi terdapat 2 macam pakan yang diberikan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami diperoleh dari hasil pemupukan yang telah dilakukan pada saat persiapan kolam. Selain pakan alami yang sudah tersedia di kolam, larva berumur 4-7 hari juga diberi pakan emulsi berupa 2 butir telur dan 1 sachet susu dan dicampurkan dengan air sebanyak 1,7 liter. Dosis 2 butir telur dan 1 sachet susu ini untuk 1 kolam. Sucipto (2012) mengatakan bahwa pakan awal untuk larva dapat berupa suspensi kuning telur yang diberikan 5 kali sehari (1 butir untuk sekitar 100.000 larva). Maka diperlukan 2 butir telur dan 1 sachet susu untuk larva 250.000 ekor.
Pemberian pakan di BBPBAT Sukabumi diberikan secara adlibitum. Cara pemberian pakan ditebar secara merata pada kolam dan frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi (pukul 07.30-08.00) dan sore (pukul 14.00-14.30).
Setelah larva mencapai umur 8 hari maka diberi pakan tambahan yaitu pakan komersil dengan dosis 1 kg/kolam dimana pakan tersebut ditambahkan air hingga menjadi bubur yang ditebar secara merata pada kolam, sebagaimana terlihat pada Gambar 5.
 






                              
                
                 (a)                                    (b)                                     (c)
Gambar 5. Pakan komersil (a), pembuatan pakan bubur (b), dan penebaran pakan pada kolam secara merata (c)
4.2.3. Pengamatan Pertumbuhan dan Tingkat Kelulushidupan (SR) larva ikan Mas
Pada pemeliharaan larva dilakukan sampling 2 kali yaitu saat larva berumur 10 hari dan larva berumur 18 hari sebanyak 30 ekor/kolam untuk diukur panjang dan bobot tubuh larva, laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupannya seperti terlihat pada Gambar 6 berikut.
 








(a)                                       (b)                                 (c)

Gambar 6. Sampling larva (a) dan dimasukkan ke wadah untuk diukur (b) dan larva ikan ditimbang dengan timbangan analitik (c) .

Pada sampling yang dilakukan saat larva 10 hari dan 18 hari diukur panjang tubuh larva dan menimbang bobot tubuh larva, data pengukuran panjang dan bobot tubuh larva tertera pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Perkembangan panjang dan bobot larva ikan Mas pada kolam tanah
Kolam

Kelompok Umur
Umur 3 hari
(awal ditebar)
Umur 10 hari
Umur 18 hari
Panjang
(cm)
Berat
(g)
Panjang
(cm)
Berat
(g)
Panjang
(cm)
Berat
(g)
H1
H2
H3
0,6
0,6
0,7
0,0038
0,0038
0,0038
1,58
1,54
1,62
0,104
0,091
0,103
1,85
1,67
1,93
0,17
0,13
0,17

Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perkembangan panjang dan bobot larva ikan Mas berbeda pada setiap kolamnya. Dari data diatas dapat dilihat bahwa pertambahan panjang dan bobot tubuh larva yang tinggi didapat pada kolam H3 dimana panjang tubuhnya lebih besar dari kolam H1 dan H2. Sementara jika dilihat dari pertambahan panjang dan bobot tubuh larva dari pertama ditebar hingga seminggu pemeliharaan didapat pertumbuhan yang optimal yaitu dari 0,6 cm hingga 1,58 cm dan bobot tubuh dari 0,0038 gram hingga 0,104 gram. Namun pada pemeliharaan seminggu berikutnya didapat pertumbuhan pada larva tidak seoptimal pada pemeliharaan sebelumnya, dimana pada pemeliharaan 18 hari larva hanya dapat berkembang dari panjang tubuh 1,58 cm hingga 1,85 cm dan bobot tubuh dari 0,104 gram hingga 0,17 gram. Selisih nilai pertumbuhan larva pada pemeliharaan minggu 1 lebih tinggi dari nilai pertumbuhan larva pada pemeliharaan minggu 2.
Untuk melihat perkembangan panjang dan bobot tubuh larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 7 dan 8 berikut.
Gambar 7. Grafik perkembangan panjang tubuh larva ikan Mas di kolam tanah
Gambar 8. Grafik perkembangan bobot tubuh larva ikan Mas di kolam tanah
Pada Gambar 7 menunjukkan perkembangan panjang tubuh larva ikan Mas mengalami kenaikan yang terus meningkat dan pada umur 10 hari hingga 18 hari mengalami peningkatan yang cenderung stabil.
Pada Gambar 8 menunjukkan bahwa perkembangan bobot tubuh larva ikan Mas mengalami kenaikan yang terus meningkat. Hal ini dikarenakan tercukupinya kebutuhan nutrisi larva selama pemeliharaan.
Perbedaan panjang dan bobot tubuh larva ini juga dapat disebabkan oleh padat tebar. Padat tebar pada kolam sangat tinggi larva akan bersaing untuk mendapatkan makanan dan lahan yang sempit akan mengakibatkan ikan stress sehingga nafsu makan hilang dan pertumbuhan ikan pada kolam akan lambat. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (2006) dalam Widiastuti (2009) pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kepadatan ikan. Semakin tinggi kepadatan maka pertumbuhan semakin rendah, namun produksi tinggi. Sedangkan semakin rendah kepadatan maka pertumbuhan semakin tinggi namun produksi rendah.
Selain perkembangan panjang dan bobot tubuh larva, dilakukan juga pengukuran laju pertumbuhan larva pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Laju Pertumbuhan larva ikan Mas di kolam tanah
No
Parameter yang Diukur
Kolam
Umur 10 hari
(%)
Umur 18 hari
(%)
1


Rataan
LPH

H1
H2
H3
47,25
45,35
47,12
46,57
25,33
23,54
25,33
24,73
2


Rataan
LPM
H1
H2
H3
42,94
37,37
42,51
40,94
33,24
25,24
33,24
30,57

Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa LPH pada larva ikan dikolam tanah (H1,H2,H3) saat berumur 10 hari didapat 45,35-47,25 % dan LPM 37,37%, saat berumur 18 hari 23,54-25,33%  dan LPM 25,24-33,24%.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan dapat diketahui bahwa masing-masing kolam mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan setiap ikan harus bersaing dalam mendapatkan makanan yang diberikan dan dalam ruang gerak yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi sehingga hal ini tampak dapat mempengaruhi pertumbuhan dari ikan tersebut.
Pakan yang cukup dan pemberian pakan yang baik juga penting untuk pertumbuhan larva. Di BBPBAT pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi 2 kali sehari sementara, Menurut Sitanggang (2000) pemberian pakan larva ikan mas sebaiknya adalah dalam jumlah sedikit tetapi sering, biasanya 3-4 kali. Memberi pakan lebih sering dengan jumlah yang sedikit akan lebih baik jika dibandingkan dengan memberi pakan dengan frekuensi yang lebih sedikit dengan jumlah yang banyak. Hal inilah salah satu yang menyebabkan bahwa pertumbuhan larva lambat.
Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kelulushidupan ikan Mas seperti kualitas air, pakan yang diberikan dan padat tebar. Tingkat kelulushidupan benih diperoleh setelah menghitung jumlah benih saat panen dilakukan. SR (Survival Rate) dihitung dengan cara membagi jumlah akhir benih dengan jumlah larva awal ditebar lalu dikalikan 100 %. Untuk melihat persentasi SR larva pada masing-masing kolam dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Tingkat kelulushidupan (SR) larva pada kolam pemeliharaan ikan Mas
Kolam
Jumlah larva yang Ditebar (ekor)
Jumlah Benih  yang Dipanen (ekor)
SR (%)
SNI*
(SR %)
H1
H2
H3
Rataan
250.000
250.000
250.000

124.416
89.232
39.330
49,76
35,00
15,73
33,49
60-80


Keterangan : *SNI: 01-6133-1999 tentang Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio L) strain Majalaya kelas benih sebar
Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa persentasi tertinggi didapat pada kolam H1 yaitu 49,76% dan terendah pada kolam H3 yaitu 15,73%. Dilihat dari rerata SR pada pemeliharan larva di kolam tanah yaitu 33,49% jika dibandingkan dengan SR larva ikan mas menurut SNI tergolong kurang baik sehingga teknik pemeliharaan larva di BBPBAT perlu dilakukan dengan optimal agar SR yang diinginkan dapat tercapai dengan baik.
Rendahnya SR larva dapat disebabkan oleh padat tebar dimana semakin tinggi kepadatan dalam media pemeliharaan persentase kelulushidupan akan semakin menurun, hal ini diduga kerena kepadatan mengakibatkan persaingan untuk mendapatkan makanan semakin sulit. Selain padat tebar, penanganan saat pemindahan larva dari hapa ke kolam tanah dan penanganan saat panen juga mempengaruhi kelulushidupan larva dimana larva mengalami stres yang mengakibatkan kematian serta hama dan predator yang biasa menyerang larva ikan Mas yaitu biawak, ular, linsang, kodok, beberapa jenis burung (misalnya burung blekok, burung kuntul, dan burung bangau) dan kelompok hewan air berukuran kecil seperti ucrit, notonecta dan kini-kini (Khairuman dkk., 2008).
4.3 Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air digunakan sebagai indikator bahwa perairan yang digunakan masih dalam kisaran toleransi untuk kegiatan budidaya. Adapun parameter kualitas air yang dikaji adalah DO, CO2, Suhu, pH, Amoniak dan Nitrit seperti tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7. Parameter Kualitas Air pada Kolam Pemeliharaan Larva Ikan Mas
No
Parameter
Wadah Pemeliharaan/Kolam Larva
Standar*
H1
H2
H3

1
DO (mg/L)
5,36
5,14
4,95
>2 mg/L
2
CO2 (mg/L)
36,6
23,8
31,1
0-12 mg/L
3
Suhu (0C)
24,4
24,7
24,7
26-280C
4
pH
7,23
7,31
7,03
6,5-8,5
5
Amoniak (mg/L)
0,31
0,17
0,52
<0,02 mg/L
6
Nitrit (mg/L)
0,52
0,34
0,41
<0,1 mg/L
Keterangan : *sumber Atmadja Hardjamulia, 1988 (dalam Khairuman, dkk, 2008)

Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) dan karbondioksida (CO2) pada kolam pemeliharaan berkisar antara 4,95-5,36 mg/L dan 23,8-36,6 mg/L, dimana kandungan oksigen terlarut ini tergolong cukup baik karena menurut Khairuman, dkk (2008) DO yang paling ideal untuk pertumbuhan ikan Mas adalah lebih dari 2 mg/L dan kandungan karbondioksida pada kolam pemeliharaan tergolong tidak baik karena menurut Khairuman, dkk (2008) CO2 yang paling ideal untuk pertumbuhan ikan Mas adalah lebih dari 0-12 mg/L .
pH air berkisar antara berkisar antara 7,03-7,31, hasil dari pengukuran ini tergolong baik pada larva ikan Mas dimana larva masih dapat menyesuaikan diri terhadap pH yang terdapat pada kolam pemeliharaan, karena menurut Khairuman, dkk (2008) menyatakan umumnya ikan dapat beradaptasi pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH) berkisar antara 6,5-8,5. Kualitas air merupakan salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.
Suhu berkisar antara 24,4-24,70C, dari hasil pengukuran ini tergolong cukup baik untuk habitat larva ikan Mas, karena (Murtidjo, 2001) mengemukakan bahwa temperatur yang ideal untuk budidaya ikan Mas (C. carpio) adalah  pada suhu antara 24-280C.
Sedangkan untuk kandungan nitrit pada kolam pemeliharaan berkisar antara 0,34-0,52 mg/L dan amoniak berkisar antara 0,17-0,52, hasil pengukuran ini tergolong tidak baik bagi pertumbuhan ikan.  (Khairuman, dkk, 2008) mengatakan kadar nitrat pada kolam pemeliharaan kurang dari 0,1 mg/L dan kadar amoniak kurang dari 0,02 mg/L. kandungan nitrat dan amoniak ini berasal dari sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang mengendap didasar kolam.
V.                KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Teknik pemeliharaan ikan Mas di BBPBAT Sukabumi Jawa Barat dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1.      Tahapan  pemeliharaan larva yang meliputi persiapan wadah (pengeringan kolam, pembalikan tanah kolam, pengapuran, pemupukan), pemberian pakan, pengukuran pertumbuhan larva, pengelolaan kualitas air serta hama dan penyakit larva.
2.      Pada kolam tanah perkembangan larva ikan Mas berumur 10 hari mencapai ukuran panjang tubuh 1,58 cm dan berat 0,09 gram, larva berumur 18 hari mencapai ukuran panjang tubuh 1,8 cm dan berat 0,15 gram.
3.      LPH larva ikan Mas berumur 10 hari mencapai 46,57%, larva berumur 18 hari mencapai 24,73%. LPM larva ikan Mas berumur 10 hari mencapai 40,94% dan larva berumur 18 hari mencapai 30,57
4.      Survival Rate (SR) pada pemeliharaan larva selama 18 hari di kolam tanah  yaitu 33,49%.
5.2. Saran
            Dari kegiatan pemeliharaan larva ikan Mas di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar ( BBPBAT) Sukabumi Jawa Barat ada beberapa saran yaitu:
1.      Sebaiknya pemeliharaan larva dilakukan di kolam beton agar terhindar dari hama sehingga laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva tinggi.
2.      Jika memang pemeliharaan larva dilakukan di kolam tanah maka perlu dilakukan penjagaan seperti memasang pagar pada sisi-sisi kolam agar predator dapat diminimalisir kemudian sumber air juga perlu diperhatikan. Diharapkan air yang akan dipakai untuk pemeliharaan larva dengan air yang bersih.
3.      Pemberian pakan pada larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi sebaiknya dapat dilakukan 3-4 kali sehari dalam jumlah pakan yang sedikit agar pertumbuhan larva lebih optimal.