LAPORAN PRAKTEK MAGANG
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN MAS MANTAP (Cyprinus carpio L)
DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR
(BBPBAT) SUKABUMI JAWA BARAT
OLEH
CONSTANTINE PURBA

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU
KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016
LAPORAN
PRAKTEK MAGANG
TEKNIK PEMELIHARAAN LARVA IKAN MAS MANTAP (Cyprinus carpio L) DI BALAI
BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT) SUKABUMI JAWA
BARAT
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Ujian Praktek Magang Pada Fakultas
Perikanan Ilmu Kelautan Universitas Riau
OLEH
CONSTANTINE
PURBA
1304115462

FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
RIAU
PEKANBARU
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas
dan berpotensi besar untuk usaha budidaya berbagai macam jenis ikan air tawar. Budidaya
perikanan merupakan usaha yang dapat dikembangkan untuk memenuhi berbagai
kebutuhan yang dapat meningkatkan taraf hidup petani ikan dan usaha budidaya
ikan ini memiliki keuntungan yaitu dapat meningkatkan sumber protein,
meningkatkan pendapatan masyarakat petani ikan, meningkatkan ekspor non migas
serta menunjang usaha kelestarian sumberdaya hayati serta memperluas lapangan
kerja.
Menurut Rukmana (2006), ikan Mas merupakan salah satu dari 15 jenis
komoditas ikan yang ditujukan untuk peningkatan produksi dan pendapatan
petani, serta pemenuhan untuk jenis ikan budidaya air tawar di Indonesia, memiliki daging yang
putih dan lunak memungkinkan untuk dicerna oleh semua umur. Selain itu ikan Mas juga memiliki cita
rasa yang sangat tinggi dan mudah dalam
pemeliharaannya.
Ikan mas ( Cyprinus
carpio L.) merupakan spesies ikan
air tawar yang sudah lama dibudidayakan. Di Indonesia, dikenal
beberapa strain ikan Mas yang dibudidayakan, yakni Majalaya, Punten, Sinyonya, Domas,
Merah/Ikan Mas Cangkringan, Kumpai dan sebagainya.
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, melalui Balai Besar
Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi memperkenalkan komoditas unggul baru
bernama Ikan Mas Mantap (Majalaya Tahan Penyakit). Pelepasan komoditas unggul
ini telah ditetapkan pada tanggal 16 April 2015 melalui Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 24/Kepmen-KP/2015 Tentang
Pelepasan Ikan Mas Mantap. Keputusan
ini merupakan langkah untuk memperkaya jenis dan
varietas Ikan Mas yang beredar di masyarakat yang merupakan hasil seleksi
berdasarkan marka molekuler yang dilakukan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya
Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Ikan Mas ini berkembang pertama kali di daerah Majalaya, Kabupaten
Bandung, Jawa Barat.
Budidaya ikan Mas
memiliki prospek ekonomi yang cukup tinggi, sehingga banyak disukai oleh
konsumen. Selain itu ikan Mas juga dikenal memiliki tingkat pertumbuhan yang
cepat sehingga sangat baik untuk dibudidayakan.
Anak ikan yang baru menetas disebut larva dimana tubuhnya belum dalam keadaan sempurna, baik organ dalam maupun organ luarnya. Tahap larva adalah tahapan paling kritis dalam kehidupan ikan karena
banyak faktor penyebab mortalitas mulai dari larva menetas ke alam sampai dapat
mencari makanan sendiri.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik
melakukan praktek magang dengan judul teknik pemeliharaan larva ikan Mas serta
ingin mengetahui secara langsung mengenai teknik pemeliharaan larva ikan Mas
dan tingkat pertumbuhannya di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT)
Sukabumi, Jawa Barat.
1.2.Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktek magang ini adalah untuk
mengetahui secara langsung teknik pemeliharaan larva ikan Mas Mantap (C. carpio L) di BBPBAT Sukabumi dan
mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam proses pemeliharaan larva serta
mencari pemecahan dari masalah tersebut.
Adapun manfaat
dari praktek magang ini adalah dapat menambah pengetahuan, pengalaman,
keterampilan dan memperluas wawasan dalam bidang perikanan, khususnya dalam
pemeliharaan larva ikan Mas (C. carpio L).
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas Mantap
Ikan
Mas dapat diklasifikasikan secara taksonomi sebagai berikut: Filum : Chordata, Kelas : Pisces, Ordo :
Ostariophysi, Famili : Cyprinidae, Genus : Cyprinus, Species : Cyprinus carpio, L. (Susanto, 2007)
(Gambar 1).
Gambar
1. Ikan Mas Mantap (C. carpio L)
Ikan
Mas Mantap ini berkembang pertama kali di daerah Majalaya,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Ukuran badannya relatif pendek dan punggungnya lebih membungkuk dan lancip
dibandingkan dengan ras ikan mas lainnya. Perbandingan antara panjang dan
tinggi tubuhnya adalah 3,2:1. Bentuk tubuhnya semakin lancip ke arah punggung
dan bentuk moncongnya pipih. Sifat ikan mas ini relatif jinak dan biasa
berenang di permukaan air. Sisiknya berwarna hijau keabuan dan bagian tepinya
berwarna lebih gelap, kecuali di bagian bawah insang dan di bagian bawah sirip
ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung, warna sisik ikan ini semakin
gelap. ( Khairuman dkk., 2008).
2.2. Habitat dan Penyebaran Ikan Mas
Ikan
Mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu
dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau
danau. Ikan Mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150–600 meter di
atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan
air tawar, ikan Mas terkadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai
yang bersalinitas (kadar garam) 25-30% (Khairuman dkk, 2008).
Menurut
Suseno (2004), ikan Mas di Indonesia berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok
yang kemudian berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat penting. Ikan Mas
awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan Mas diketahui
sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad
ke-19. Masyarakat setempat sudah menggunakan kakaban untuk pelekatan telur ikan
Mas yang terbuat dari ijuk pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan Mas kolam
didaerah Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
2.3. Kebiasaan Makan Ikan Mas
Ikan
Mas tergolong jenis omnivora, yakni organisme yang dapat memangsa berbagai
jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun,
makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepi
perairan (Khairuman dkk, 2008).
Pada
umur muda (ukuran 10 cm) ikan Mas senang memakan jasad hewan atau tumbuhan yang
hidup didasar perairan/kolam, misalnya Chironomidae,
oligochaeta, tubuficidae, epimidae, trichoptera, molusca dan sebagainya.
Selain itu ikan mas juga memakan protozoa dan zooplankton seperti copepoda, dan cladocera. Hewan-hewan kecil tersebut disedot bersama lumpurnya,
diambil yang dapat dimanfaatkan dan sisanya dikeluarkan melalui mulut (Suseno,
2004)
Ikan
mas sering mencari sumber makanan (jasad-jasad renik) disekeliling pematang.
Oleh sebab itu pematang sering rusak dan longsor karenanya. Ikan mas juga suka
mengaduk-aduk dasar kolam untuk mencari makanan yang bisa dimanfaatkan seperti
larva insecta, cacing-cacingan dan lain sebagainya. Aktifitas ini akan membantu
kawanan benih mencari makanan,karena binatang-binatang di dasar kolam yang
teraduk ke atas dapat menjadi santapan lezat bagi benih. Dengan kebiasaan
seperti ini akan mempermudah bagi kita mengetahui apa kemauan ikan tersebut
(Santoso, 1995).
2.4. Pemeliharaan Larva
Larva
yang baru keluar dari cangkang telur digolongkan sebagai prolarva dengan
ciri-ciri larva belum memiliki bukaan mulut, sirip belum terbentuk sempurna,
membawa kuning telur sebagai cadangan makanan selama masa pro larva. Lamanya
masa menjadi prolarva atau sampai habis kuning telur bervariasi untuk setiap
spesies ikan, biasanya sekitar 3-7 hari. Cepat lambatnya habis cadangan makanan
berupa kuning telur dapat dipengaruhi oleh : jumlah kuning telur yang dibawa
telur, faktor fisiologis selama masa embriologi, kondisi lingkungan seperti
suhu perairan, dan sifat spesies itu sendiri. Sesudah habis cadangan makanan
berupa kuning telur maka larva memasuki periode post larva dan pada saat ini
bukaan mulut sudah terbentuk dan beberapa organ tubuh mulai terbentuk sempurna
serta mulai difungsikan (Dahuri, 2002).
Sehari
setelah menetas, larva akan menempel pada kakaban. Oleh karena itu, kakaban
sebaiknya diangkat pada 2-3 hari kemudian setelah telur menetas. Larva umur 2-3
hari dapat dipindahkan ke kolam pendederan pertama. Jika kolam pendederan belum
siap, larva tetap dirawat di dalam hapa. Pakan awal untuk larva tersebut dapat
berupa suspensi kuning telur yang diberikan 5 kali sehari (1 butir untuk
sekitar 100.000 larva). Lama pemeliharaan larva di dalam hapa sebaiknya tidak
lebih dari 5 hari (Sucipto, 2012)
Setelah
telur menetas, larva ikan mas akan terlihat jelas jika sedang bergerak. Pasca
pemijahan adalah kegiatan yang dilakukan untuk pemeliharaan larva mulai penetasan
hingga ukuran benih. Pada kegiatan ini yang terpenting adalah menentukan jenis
pakan yang cocok selama pemeliharaan. Larva yang berumur 5-6 hari bentuknya
telah menyerupai bentuk ikan yang sebenarnya, dan telah dapat dikatakan benih
yang siap untuk dipelihara (Sukendi, 2006)
Menurut Jangkaru (2007), fase larva
merupakan masa kritis dalam daur hidup ikan sehingga tingkat kematian atau
mortalitas pada fase ini sangat tinggi. Banyak faktor yang menyebabkan tingkat
mortalitas pada fase larva menjadi tinggi. Faktor penyebab tersebut dapat
digolongkan dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari
proses perkembangan biologi larva itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal
antara lain penyakit, hama, kualitas air, cuaca dan pakan.
2.5. Pemberian Pakan
Menurut
Sitanggang (2000) pemberian pakan larva ikan mas sebaiknya adalah dalam jumlah
sedikit tetapi sering, biasanya 3-4 kali. Memberi pakan lebih sering dengan
jumlah yang sedikit akan lebih baik jika dibandingkan dengan memberi pakan dengan
frekuensi yang lebih sedikit dengan jumlah yang banyak.
Pakan
yang diberikan pada larva ikan sebaiknya adalah pakan alami, karena selain
sebagai sumber karbohidrat, lemak, protein juga pakan alami yang bergerak tidak
begitu aktif dan memungkinkan untuk mempermudah larva memangsanya (Anonim, 2013)
Menurut
Boer (2010), jumlah bahan pakan yang dibutuhkan oleh ikan sangat bervariasi dan
ditentukan oleh jenis makanan itu sendiri. Makanan yang baik adalah makanan
yang dapat dimanfaatkan untuk membentuk jaringan tubuh. Badan akan berkurang
apabila jumlah energi minimum yang dibutuhkan belum terpenuhi. Perbedaan pokok
antara makanan ikan dan makanan hewan peliharaan lainnya adalah jumlah energi
yang dibutuhkan untuk mensintesa protein jauh lebih sedikit jika dibandingkan
dengan hewan berdarah panas.
2.6. Pertumbuhan Ikan Mas
Menurut
Effendi (1997) pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks dimana
banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dalam individu adalah
pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Pertambahan
tersebut akan menyebabkan panjang dan berat pada organisme.
Menurut
Susanto (2006) dalam Widiastuti
(2009) pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kepadatan ikan. Semakin tinggi
kepadatan maka pertumbuhan semakin rendah, namun produksi tinggi. Sedangkan
semakin rendah kepadatan maka pertumbuhan semakin tinggi,namun produksi rendah.
Hal tersebut disebabkan karena kondisi wadah yang semakin padat menyebabkan
ikan stres dan nafsu makan berkurang, sehingga laju pertumbuhan lambat.
Selain
itu, Fujaya (2004) dalam Widiastuti
(2009) menambahkan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh genetik, hormon, dan
lingkungan. Genetik dan hormon sangat dipengaruhi oleh kualitas indukan. Oleh
karena itu, induk harus dipilih sebelum dipijahkan.
Huet dalam Royani (2008) juga
menjelaskan bahwa padat penebaran mempunyai hubungan erat dengan pertumbuhan,
karena semakin tinggi padat penebarannya maka semakin rendah pertumbuhannya.
Handajani dan Widodo
(2010), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan
adalah dari faktor ikannya sendiri, lingkungan makanan yang diberikan, dan juga
kualitas air seperti, suhu, oksigen, dan amoniak (NH3).
2.7. Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas
air termasuk faktor yang paling menentukan dalam budidaya ikan Mas. Sumber air
yang baik dalam pembenihan dan pembesaran ikan Mas adalah pada suhu 250-300C,
oksigen terlarut (DO) diatas 3 ppm, pH 6,7-8,0 dan amoniak 0,1 ppm (Hernowo,
2005)
Kualitas
air yang memenuhi syarat sebagai media hidup ikan Mas adalah sebagai berikut :
1) DO dalam air paling ideal besar dari 2 mg/L; 2) kandungan CO2 dalam
media pemeliharaan berkisar ntara 012 mg/L; 3) kisaran pH air antara 6,5-8,5. 4).
Suhu air berkisar 26-28oC. 5) kandungan Amoniak pada media
pemeliharaan kecil dari 0,02 mg/L dan kandungan Nitrit kecil dari 0,1 mg/L (Khairuman dkk., 2008).
Handayani dan Widodo,
(2010) mengatakan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kehidupan
ikan secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan peningkatan suhu
sampai batas tertentu yang dapat menekan kehidupan ikan dan juga bahkan menyebabkan
kematian, hal ini disebabkan oleh kelarutan gas-gas dalam air termauk oksigen,
semakin tinggi suhu maka semakin kecil kelarutan oksigen dalam air.
2.8. Hama Dan Penyakit
Serangan
hama dan penyakit merupakan salah satupenyebab gagalnya usaha budidaya ikan
Mas. Tidak jarang, ikan Mas yang akan dipanen mengalami kematian klarena
serangan penyakit. Serangan penyakit biasanya menimbulkan kerugian yang lebih
besar dibandingkan dengan serangan hama (Khairuman dkk., 2008).
Hama
dikenal sebagai predator atau pemangsa yang hidup di air atau di darat. Jenis
hama yang umum menyerang ikan Mas adalah biawak, ular, linsang, kodok, beberapa
jenis burung (misalnya burung blekok, burung kuntul, dan burung bangau) dan
kelompok hewan air berukuran kecil seperti ucrit, notonecta dan kini-kini
(Khairuman dkk., 2008).
Menurut
Khairuman dkk. (2008), penyebab penyakit pada ikan ada dua, yakni jasad hidup
dan bukan jasad hidup. Jasad hidup yang menyebabkan penyakit pada ikan adalah
parasit. Contoh parasit yang menyerang ikan mas adalah virus, jamur, bakteri,
protozoa, cacing, dan udang renik. Sementara itu, penyebab penyakit yang bukan
termasuk jasad hidup adalah sifat fisika air, sifat kimia air, dan pakan yang
kurang cocok untuk kehidupan ikan Mas.
III.
METODE PRAKTEK
3.1.
Waktu Dan Tempat
Praktek
magang ini telah dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2016 sampai tanggal 26 Februari
2016 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar,
Sukabumi Jawa Barat.
3.2.
Bahan Dan Alat
Adapun bahan yang
digunakan dalam pemeliharaan larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Bahan yang digunakan dalam Pemeliharaan Larva ikan Mas
|
No
|
Bahan
|
Fungsi
|
|
1
2
3
4
5
6
|
Larva ikan Mas
Telur
dan susu
Pakan komersil/pakan
bubur
Dedak
Ragi instan dan larutan EM4
Kapur
|
Sebagai objek pengamatan
Sebagai pakan emulsi
larva selama 7 hari
Pakan larva selama 18 hari
Sebagai fermentasi pemupukan
Untuk mempercepat proses fermentasi
|
Adapun
alat yang digunakan dalam pemeliharaan larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi dapat
dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Alat yang digunakan dalam
Pemeliharaan Larva Ikan Mas
|
No
|
Alat
|
Fungsi
|
|
1
|
Hapa
|
Wadah pemeliharaan larva ikan Mas 2-3
hari
|
|
2
|
Timbangan
analitik
|
Menimbang
bobot tubuh larva ikan Mas
|
|
3
|
Ember
|
Wadah pembuatan pakan bubur larva ikan
Mas
|
|
4
|
Scopnet
|
Menangkap
larva ikan Mas
|
|
5
|
Timbangan
|
Untuk menimbang bahan pemupukan dan
pengapuran
|
|
6
|
Mesin
genset/mesin listrik
|
Penerangan
dan pengaliran air ke kolam ketika kemarau
|
|
7
|
Kamera
|
Untuk dokumentasi
|
|
8
|
Alat
Tulis
|
Untuk
mencatat data
|
|
9
|
Termometer
|
Mengukur suhu kolam
|
|
10
|
Kertas
pH
|
Mengukur
derajat asam-basa perairan
|
|
11
|
Aerator
|
Sebagai pensuplai oksigen dalam kolam
|
3.3.
Metode Praktek
Metode yang
digunakan dalam praktek ini adalah praktek langsung. Data yang dikumpulkan
meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari
wawancara dengan pegawai, Kepala Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi serta mengikuti aktivitas dan melibatkan diri
secara langsung dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan larva ikan Mas (C. carpio L). Data sekunder
diperoleh dari instansi terkait yang berhubungan dengan data yang diperlukan,
serta ditambahkan dengan literatur yang mendukung kelengkapan dan kejelasan
mengenai data yang didapatkan tersebut.
3.4. Prosedur Kerja
3.4.1 Persiapan Wadah
Sebelum
dilakukan pemeliharaan larva, kegiatan utama yang harus diperhatikan adalah
persiapan wadah. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan larva berumur 2-3 hari
berupa kolam beton berukuran 15x20 m dimana pada kolam diberi hapa berukuran
6x4 m dengan ukuran mata jaring 0,1 (hapa hijau). Sebelum itu kolam dikuras dan
dibersihkan, kemudian dikeringkan dan diisi air kembali. Untuk pemeliharaan
larva berumur 4-20 hari wadah yang digunakan yaitu kolam tanah berukuran 25x20
m sebanyak 3 kolam. Sebelum larva ditebar maka kegiatan pertama adalah persiapan
wadah/kolam dengan mengeringkan dan membersihkan kolam, membuang sampah yang
ada di kolam, memperbaiki tanggul kolam serta memperbaiki saluran pemasukan dan
pengeluaran air. Setelah itu dilakukan pembalikan tanah bertujuan agar zat-zat
beracun seperti amoniak dan patogen penyakit yang terkandung dalam lumpur dapat
terangkat dan hilang dengan proses pengeringan selama 1-2 hari. Kegiatan
selanjutnya dilakukan pengapuran bertujuan untuk menetralkan pH dan mematikan hama
dan parasit ikan. Kapur yang digunakan sebanyak 25 kg untuk kolam seluas 500 m2
dan dikeringkan 1-2 hari. Setelah proses pengapuran selesai, kolam diisi
air sekitar 50-60 cm dan dibiarkan aliran air kolam bertambah sedikit demi
sedikit, kemudian dilakukan pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan
pupuk fermentasi. Bahan yang digunakan 10 kg dedak padi, 250 gr ragi instan dan
250 ml larutan EM4 dan 10 liter air yang dicampurkan dan diaduk secara merata
dan dibiarkan selama 1-2 hari, pupuk fermentasi ditebar pada sudut kolam dan
ditengah kolam. Pemupukan ini dilakukan bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami
sebagai pakan tambahan pada larva ikan Mas.
3.4.2 Pemeliharaan Larva
Larva ikan Mas yang
baru menetas akan menempel pada kakaban. Oleh karena itu, kakaban diangkat pada
2-3 hari kemudian setelah telur menetas. Larva berumur 2-3 hari biasanya masih
dibekali cadangan makanan yang berupa kantong kuning telur atau egg yolk, cadangan makanan ini cukup
hingga 3-4 hari. Larva umur 2-3 hari dipindahkan ke 3 kolam tanah dengan
masing-masing padat tebar 250.000 ekor/500m3. Kolam diberi label H1,
H2, dan H3 dengan kedalaman 80-100 cm dengan kolam sistem terbuka.
Pada pemeliharaan larva
dilakukan sampling sebanyak 2 kali yaitu saat larva berumur 10 hari dan larva
berumur 18 hari sebanyak 30 ekor perkolamnya. Parameter yang diukur yaitu laju
pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva dengan rumus yang dipakai menurut
NRC (1993) sebagai berikut :
a. Laju
Pertumbuhan Harian (LPH)
Keterangan :
α = Laju pertumbuhan harian (%)
Wo = Bobot rata-rata ikan uji pada
awal pengamatan (gr)
Wt
= Bobot rata-rata ikan uji pada akhir pengamatan (gr)
t = Lama penelitian (hari)
b. Laju
Pertumbuhan Mutlak (LPM)
Keterangan :
LPM = Laju pertumbuhan mutlak (%)
Bo = Bobot rata-rata ikan uji pada awal
pengamatan (gr)
Bt = Bobot rata-rata ikan uji pada akhir
pengamatan (gr)
t =
Lama penelitian (hari)
c. Tingkat
kelulushidupan ikan, Survival rate (SR)
SR = Kelulushidupan ikan (%)
No
= Jumlah ikan uji pada awal
pengamatan (gr)
Nt = Jumlah ikan uji pada akhir pengamatan
(gr)
3.4.3
Pemberian Pakan
Dalam pemeliharaan
larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi terdapat 2 macam pemberian pakan yaitu pakan
alami dan pakan buatan. Pakan alami diperoleh dari hasil pemupukan yang telah
dilakukan pada saat persiapan kolam. Selain pakan alami yang sudah tersedia di
kolam, larva berumur 4-7 hari juga diberi pakan emulsi berupa 2 butir telur dan
1 sachet susu yang dicampurkan dengan air sebanyak 1,7 liter. Dosis 2 butir
telur dan 1 sachet susu ini untuk 1 kolam. Setelah larva mencapai umur 8 hari maka
diberi pakan tambahan berupa pakan komersil yaitu pakan tenggelam sebanyak 1
kg/kolam dengan cara pakan tersebut ditambahkan air hingga menjadi bubur dan
ditebar secara merata pada kolam. Cara pemberian pakan ditebar secara merata
pada kolam dan frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada
pagi (pukul 07.30-08.00) dan sore (pukul 14.00-14.30).
3.4.4
Pengelolaan Kualitas Air
Dalam pemeliharaan
larva selain persiapan wadah dan pakan, pengelolaan kualitas air juga sangat
perlu diperhatikan karena kualitas air yang baik juga memiliki peranan yang
penting dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pengukuran kualitas air
secara langsung dilakukan yaitu mengukur suhu kolam dengan menggunakan
termometer dan mengukur pH kolam dengan pH indikator sedangkan untuk mengukur
DO, CO2 dan Amoniak dilakukan dengan mengambil sampel air
dalam botol BOD dan diukur di laboratorium kualitas air BBPBAT oleh pegawai
yang bersangkutan dalam laboratorium kualitas air tersebut serta melakukan
dokumentasi selama pemeliharaan yang dilakukan dan dokumentasi proses praktek
yang dilaksanakan di BBPBAT, Sukabumi.
3.4.5
Pengendalian Hama Dan Penyakit
Dalam
pemeliharaan larva tidak selamanya berjalan lancar, akan ada kendala yang
dihadapi seperti serangan penyakit, hama serta predator yang menyerang. Oleh
karena itu dilakukan sampling 5 ekor larva ikan Mas yang akan diperiksa
dilaboratorium Kesehatan Ikan BBPBAT Sukabumi. Untuk mengetahui apakah jenis
penyakit yang menyerang larva ikan Mas serta mengetahui cara penanggulangannya
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Lokasi Praktek Magang
4.1.1. Sejarah Berdirinya Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
BBPBAT Sukabumi dalam perkembangannya sejak
didirikan mengalami beberapa kali perubahan nama diantaranya :
1.
Pada tahun 1914-1942 lembaga ini diberi nama
Culturschool atau Landbow oleh Negara Belanda;
2.
Pada tahun 1943-1945 oleh Jepang diberi nama
Nogyo Gako;
3.
Pada tahun 1946-1947 diberi nama Sekolah
Pertanian Menengah;
4.
Pada Tahun 1948-1949 diberi nama Landbouw
School dibawah Departemen Van Ekonomishe Zaken;
5.
Pada Tahun 1949-1953 diberi nama Sekolah
Pertanian Menengah (SPM) dibawah Depertemen Pertanian;
6.
Pada tahun 1953-1962 diberi nama Bagian
Pendidikan Pusat Jawatan Perikanan Darat;
7.
Pada tahun 1962-1966 diberi namaPusat Pelatihan
Perikana;
8.
Pada tahun 1966-1969 diberi nama Dinas
Penyuluhan Perikanan Darat;
9.
Pada tahun 1969-1975 diberi nama Training Center Perikanan;
10.
Pada tahun 1971978 diberi nama Pangkalan
Pengembangan Pola Keterampilan Budidaya Air Tawar;
11.
Pada tahun 1978-2006 diberi nama Balai Budidaya
Air Tawar (BBAT);
12.
Pada tahun 2006-2014 diberi nama Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT); dan
13.
Pada tahun 2014 sampai sekarang berubah nama
menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT).
4.1.2.
Letak
Geografis Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
BBPBAT
Sukabumi adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang berada di bawah dan
bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya berdasarkan Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan No. 6/PERMEN-KP/2014.
Lokasi balai di di kota Sukabumi sekitar 112 km arah tenggara
Jakarta. Menempati areal seluas 25,6 hektar yang terdiri dari 10 hektar
perkolaman, 12,6 hektar lahan sawah dan kebun serta 3 hektar perkantoran,
laboratorium, wisma tamu dan sarana pendukung lainnya. Lokasi tersebut
terhampar di ketinggian 700 m diatas permukaan laut dengan suhu harian berkisar
antara 22-27°C. Air yang dimanfaatkan berasal dari sumber air tanah serta air
permukaan dari Sungai Panjalu, Sungai Cipelang dan Sungai Cisarua.
4.1.3.
Struktur Organisasi Balai
Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Struktur organisasi di BBPBAT Sukabumi terdiri dari Kepala Balai, Bagian Tata
Usaha, Sub Bagian Kepegawaian, sub bagian Keuangan dan Umum, Bidang Uji Terap
Teknik dan Kerjasama, Seksi Terap Uji Teknik, Seksi Kerjasama Teknik dan
Informasi, Bidang Pengujian dan Dukungan
Teknis, Seksi Produksi dan Pengujian, Seksi Dukungan Teknis. Kelompok Jabatan Fungsional Struktur
organisasi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 2.
|
Kepala
Balai
|
|
Bagian
Tata Usaha
|
|
Sub
Bagian Kepegawaian
|
|
Sub
Bagian Keuangan & Umum
|
|
Bidang Uji Terap Teknik
dan Kerjasama
|
|
Bidang Pengujian dan
Dukungan Teknis
|
|
Seksi Produksi dan
Pengujian
|
|
Seksi Dukungan Teknis
|
|
Seksi Terap Uji Teknik
|
|
Seksi Kerjasama Teknik
dan Informasi
|
|
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL
|
Gambar
2 . Struktur Organisasi BBPBAT Sukabumi
4.1.4.
Visi
dan Misi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya, visi dan misi Balai BBPBAT Sukabumi adalah sebagai
berikut :
a.
Visi
Mewujudkan Balai
sebagai institusi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan sistem
usaha budidaya air tawar yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.
b.
Misi
·
Meningkatkan kapasitas kelembagaan
·
Mengembangkan rekayasa tehnologi
budidaya berbasis akua bisnis serta alih tehnologi kepada dunia usaha.
·
Mengembangkan informasi sistem iptek
perikanan.
·
Meningkatkan jasa pelayanan dan
sertifikasi.
·
Memfasilitasi upaya pelestarian sumber
daya ikan dan lingkungan.
4.1.5. Tugas Pokok Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Menurut
peraturan menteri tersebut, tugas BBPBAT adalah:
1
Melaksanakan uji
terap teknik dan kerja sama,pengelolaan produksi, pengujian laboratorium,
mutu pakan, residu, kesehatan ikan dan lingkungan, bimbingan teknis perikanan budidaya air tawar.
Adapun fungsinya
adalah sebagai berikut:
1.
Identifikasi dan
penyusunan rencana program teknis dan anggaran, pemantauan dan
evaluasi serta laporan;
2.
Pelaksanaan uji
terap teknik perikanan budidaya air tawar;
3.
Pelaksanaan
penyiapan bahan standardisasi perikanan budidaya air tawar;
4.
Pelaksanaan
sertifikasi sistem perikanan budidaya air tawar;
5.
Pelaksanaan
kerja sama teknis perikanan air tawar;
6.
Pengelolaan
dan pelayanan sistem informasi, dan publikasi perikanan
budidaya air tawar;
7.
Pelaksanaan
layanan pengujian laboratorium persyaratan kelayakan teknis
perikanan budidaya air tawar;
8.
Pelaksanaan
pengujian mutu pakan, residu, serta kesehatan ikan dan lingkungan
budidaya air tawar;
9.
Pelaksanaan
bimbingan teknis laboratorium pengujian; pengelolaan
produksi induk unggul, benih bermutu, dan sarana produksi perikanan
budidaya air tawar;
10. Pelaksanaan bimbingan teknis perikanan budidaya air
tawar; dan
11. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
4.1.6.
Komoditas yang dikembangkan
di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
4.1.6.1.
Komoditas Unggulan
1. Ikan Lele Sangkuriang (Clarias
sp.)
2. Ikan Nila (Oreochromis
niloticus)
3. Ikan Mas (Cyprinus
carpio)
4.1.6.2.
Komoditas Andalan
1. Ikan Patin (Pangsius hypopthalmus)
2. Ikan Gurame (Oreochromis gouramy)
3. Ikan Baung (Mystus nemurus)
4. Ikan Grasscarp (Ctenophary ngodonidella)
5. Ikan Mola (Hypopthalmic thysmolitrix)
6. Ikan Nilem (Osteochilus vittatus)
7. Ikan Koi (Cyprinus carpio)
8. Ikan Koki (Carassius auratus)
9. Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
10. Sidat (Angulilla anguilla)
4.1.6.3.
Jenis Ikan Hasil Perekayasaan Atau Pemuliaan Yang Telah Dirilis
1. Lele Sangkuriang (Clarias
sp.)
2. Lele Sangkuriang 2 (Clarias
sp.)
3. Nila Gesit (Oreochromis
niloticus)
4. Nila Sultana (Oreochromis
niloticus)
5. Huna Capit Merah (Cherax
guadricarinatus)
6. Huna Biru (Cherax
albertisii)
4.1.7. Kepegawaian Balai di Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Struktur BBPBAT dilengkapi 128 orang pegawai
yang terbagi dalam kelompok structural yaitu Kepala Balai, Tata Usaha,
Pengujian dan Dukungan Teknis, dan Uji Terap Teknik dan Kerjasama. Sedangkan kelompok fungsional,
yaitu : Perekayasa , Teknisi Litkayasa, Pengawas Benih, Pengawas Budidaya,
Pengendali Hama dan Penyakit, Pustakawan yang dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Pegawai Balai Besar Perikanan Budidaya Air
Tawar Sukabumi
|
NO
|
PROFESI
|
PENDIDIKAN
|
JUMLAH
|
|||||
|
S2
|
S1/D4
|
D III
|
SLTA
|
SLTP
|
SD
|
|||
|
1
|
STRUKTURAL
|
|
|
|
|
|
|
5 I
|
|
|
Kepala balai
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
|
|
Tata usaha
|
-
|
4
|
4
|
18
|
-
|
1
|
27
|
|
|
Pengujian dan dukungan teknis
|
-
|
1
|
2
|
15
|
-
|
-
|
18
|
|
|
Uji terap teknik dan kerjasama
|
-
|
4
|
-
|
1
|
-
|
-
|
5
|
|
2
|
FUNGSIONAL
|
|
|
|
|
|
|
77
|
|
|
Perekayasa
|
16
|
9
|
-
|
-
|
-
|
|
25
|
|
|
Litkayasa
|
-
|
7
|
6
|
15
|
-
|
|
28
|
|
|
Pengawas dan phpi
|
-
|
13
|
3
|
5
|
-
|
|
21
|
|
|
Pustakawan
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
|
1
|
|
|
Penata humas
|
-
|
-
|
1
|
1
|
-
|
|
2
|
|
JUMLAH TOTAL
|
17
|
38
|
16
|
56
|
0
|
1
|
128
|
|
4.1.8.
Sarana dan
Prasarana di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
BBPBAT Sukabumi
memiliki beberapa sarana dan prasarana guna melancarkan seluruh kegiatan balai.
Sarana berupa peralatan
ataupun bangunan yang berkaitan langsung dengan kegiatan operasional
sehari-hari dalam pengelolaan usaha budidaya, sementara prasarana berupa
peralatan ataupun bangunan yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan
operasional sehari-hari dalam pengelolaan usaha budidaya. Sarana dan prasarana
yang dimiliki adalah sebagai berikut :
·
Sarana di BBPBAT Sukabumi
a. Bak
Pembenihan
Sarana bak pembenihan indoor
maupun outdoor digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembenihan (ikan
dan udang) yang meliputi kegiatan pemeliharaan induk dan larva.
b. Kolam
Kegiatan penerapan
teknologi budidaya atau pembesaran ikan, udang dan komoditas lain tersedia
petakan kolam dengan rincian jumlah 130 kolam, terdiri dari kolam induk, kolam benih dan kolam pendederan. Komoditas
yang di kembangkan meliputi ikan nila (Oreochromis
sp.), ikan mas (Cyprinus carpio L.),
ikan lele (Clarias gariepinus), ikan patin
(Pangasius hypophtalmus), ikan baung
(Mystusne murus), ikan mola (Hypopthalmicthys molitrix), ikan koan (Ctenopharyngodon idella), ikan hias, dan
udang galah (Macrobrachium rosenbergii
de Man), kodok lembu (Rana catesbeiana
Shaw). Terdapat pula instalasi dengan rincian 24 KJA di Cirata, 28 kolam air deras
di Cisaat dan hatchery udang galah di pelabuhan Ratu.
c.
Laboratorium
Beberapa unit laboratorium telah
dioperasionalkan guna menunjang pencapaian produksi dan penerapan teknik
budidaya berwawasan lingkungan. Laboratorium tersebut meliputi dari
laboratorium kesehatan ikan, kualitas air, pakan dan karantina.
d. Jaringan
Air Tawar
Air tawar merupakan
kebutuhan utama dalam kegiatan pembenihan dan pembesaran. BBPBAT Sukabumi
memiliki jaringan air tawar dalam komplek pembenihan dan perkantoran yang
dilengkapi dengan tandon, tower serta jaringan aerasi pada setiap hatchery.
e. Jaringan
Listrik
Listrik merupakan salah satu pendukung
utama kegiatan balai secara umum. Listrik diperlukan secara selama 24 jam. Pembangkit tenaga listrik yang digunakan
berasal dari jaringan PLN dan terdapat genset yang digunakan untuk
menanggulangi sewaktu-waktu aliran listrik PLN mengalami gangguan atau padam.
f. Sistem
Aerasi
Aerasi berfungsi untuk
meningkatkan kandungan oksigen yang larut dalam air dan memercepat proses
penguapan gas-gas beracun seperti H2S (Hidrogen
Sulfida) dan NH3 (Amonia). Agar kebutuhan oksigen
terpenuhi, maka diperlukan peralatan seperti blower, pipa distribusi, selang
aerasi dan batu aerasi.
·
Prasarana di BBPBAT Sukabumi
a. Transportasi
BBPBAT Sukabumi dilengkapi dengan
sarana transportasi. Berupa satu unit mobil klinik kesehatan yang digunakan
untuk survei dan pengambilan sampel kesehatan ikan yang dioperasikan oleh
kelompok kerja kesehatan ikan, satu unit mobil fan hi lux pengangkut benih dan
pakan pada jarak dekat, serta satu satu unit truk mini untuk mengangkut pakan dan benih dalam
jumlah yang lebih besar pada jarak tempuh yang lebih jauh.
b. Bangunan
Prasarana Lain
Bangunan yang dimiliki BBPBAT Sukabumi
berupa gedung perkantoran, laboratorium, bangsal pembenihan, auditorium,
garasi, guest house, rumah dinas dan pos satpam. Gedung perkantoran meliputi
gedung utama yang digunakan untuk perpustakaan, ruang rapat, ruang para pejabat
struktural beserta staf. Selain itu, BBPBAT Sukabumi juga memiliki prasarana
berupa jalan aspal yang menghubungkan perkantoran dan perumahan serta kompleks
kolam. Prasarana lain berupa masjid sebagai sarana ibadah.
c. Sistem
Informasi dan Komunikasi
Sistem informasi yang tersedia di BBPBAT
Sukabumi adalah website resmi dan brosur. Sedangkan sistem komunikasi yang
digunakan adalah telepon, Faksimile dan Email. Sistem komunikasi ini dapat
mendukung dan mempermudah setiap aktivitas BBPBAT Sukabumi baik didalam maupun
diluar balai.
4.2
Pemeliharaan Larva
4.2.1
Persiapan Wadah Pemeliharaan Larva
Sebelum dilakukan
pemeliharaan larva, kegiatan utama yang harus diperhatikan adalah persiapan
wadah. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan larva berumur 2-3 hari berupa
kolam beton dimana pada kolam diberi hapa berukuran 6x4 m dengan ukuran mata
jaring 0,1 (hapa hijau). Sebelum itu kolam dikuras dan dibersihkan, kemudian
dikeringkan dan diisi air kembali.
Pemeliharaan larva yang
baru menetas dilakukan di hapa selama 3 hari. Selama larva dipelihara dihapa
tidak diberi makan, hal ini disebabkan masih adanya kuning telur sebagai
cadangan makanannya. Setelah 3 hari sejak telur menetas dilakukan pemanenan,
dimana larva sudah dapat berenang bebas dan tubuhnya sudah berwarna coklat
kehitaman sehingga larva siap untuk dipindahkan ke kolam tanah.
Pemeliharaan larva
berumur 4-18 hari, wadah yang digunakan yaitu kolam tanah berukuran 25x20 m
sebanyak 3 kolam. Sebelum larva ditebar maka kegiatan pertama adalah persiapan
wadah/kolam dengan mengeringkan dan membersihkan kolam, membuang sampah yang
ada di kolam, memperbaiki tanggul kolam serta memperbaiki saluran pemasukan dan
pengeluaran air. Setelah itu dilakukan pembalikan tanah bertujuan agar zat-zat
beracun seperti amoniak dan patogen penyakit yang terkandung dalam lumpur dapat
terangkat dan hilang dengan proses pengeringan selama 1-2 hari.
Kegiatan selanjutnya
dilakukan pengapuran bertujuan untuk menetralkan pH dan mematikan hama dan
parasit ikan. Kapur yang digunakan sebanyak 25 kg untuk kolam seluas 500 m2.
Kapur yang sudah dicampurkan dengan air ditebar merata pada kolam. Setelah
proses pengapuran selesai, kolam diisi air sekitar 50-60 cm dan dibiarkan
aliran air kolam bertambah sedikit demi sedikit, kemudian dilakukan pemupukan.
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk fermentasi yang telah dibuat 2
hari sebelum penebaran. Bahan yang digunakan yaitu 10 kg dedak padi, 250 gr
ragi instan dan 250 ml larutan EM4 dan 10 liter air yang dicampurkan, diaduk
secara merata dan dibiarkan selama 1-2 hari, pupuk fermentasi ditebar pada
sudut kolam dan ditengah kolam. Pemupukan ini dilakukan bertujuan untuk
menumbuhkan pakan alami sebagai pakan tambahan pada larva ikan Mas, sebagaimana
terlihat pada Gambar 3.
(a)
(b)
Gambar 3. Pengapuran di kolam (a)
dan penebaran pupuk fermentasi (b)
4.2.2.
Penebaran Larva
Larva berumur 3 hari
yang masih berada pada kakaban dipindahkan ke kolam tanah dengan cara kakaban
di angkat dengan perlahan agar larva tidak mengalami stress. Kemudian larva
dipanen dan siap untuk ditebar. Larva yang ditebar sebanyak 750.000 ekor pada 3
kolam dengan masing-masing 250.000 larva. Kolam tanah yang digunakan sebagai
wadah pemeliharaan larva berukuran 25x20 m berarti padat tebar pada tiap kolam
500 larva/m3 (Gambar 4). Penebaran larva dilakukan dengan cara
memasukkan larva ke kantong plastik dan diaklimatisasi ke kolam tanah selama 5
menit dan kemudian ditebar secara perlahan hingga larva keluar berenang dengan
sendirinya ke kolam.
|
(a)
|
(b)
|
Gambar 4. Pemeliharaan larva selama 3
hari di hapa (a) dan 4-18 hari di kolam tanah (b)
Pemeliharaan larva ini dibutuhkan untuk melihat
bagaimana laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva yang berada pada
kolam tanah.
4.2.3
Pemberian Pakan
Dalam pemeliharaan
larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi terdapat 2 macam pakan yang diberikan yaitu
pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami diperoleh dari hasil pemupukan yang
telah dilakukan pada saat persiapan kolam. Selain pakan alami yang sudah
tersedia di kolam, larva berumur 4-7 hari juga diberi pakan emulsi berupa 2
butir telur dan 1 sachet susu dan dicampurkan dengan air sebanyak 1,7 liter.
Dosis 2 butir telur dan 1 sachet susu ini untuk 1 kolam. Sucipto (2012) mengatakan bahwa pakan awal untuk larva dapat berupa suspensi kuning
telur yang diberikan 5 kali sehari (1 butir untuk sekitar 100.000 larva). Maka
diperlukan 2 butir telur dan 1 sachet susu untuk larva 250.000 ekor.
Pemberian pakan di
BBPBAT Sukabumi diberikan secara adlibitum.
Cara pemberian pakan ditebar secara merata pada kolam dan frekuensi pemberian
pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi (pukul 07.30-08.00) dan sore
(pukul 14.00-14.30).
Setelah larva mencapai
umur 8 hari maka diberi pakan tambahan yaitu pakan komersil dengan dosis 1
kg/kolam dimana pakan tersebut ditambahkan air hingga menjadi bubur yang
ditebar secara merata pada kolam, sebagaimana terlihat pada Gambar 5.
|
(a) (b) (c)
|
Gambar
5. Pakan komersil (a), pembuatan pakan bubur (b), dan penebaran pakan pada
kolam secara merata (c)
4.2.3. Pengamatan Pertumbuhan dan
Tingkat Kelulushidupan (SR) larva ikan Mas
Pada pemeliharaan larva dilakukan
sampling 2 kali yaitu saat larva berumur 10 hari dan larva berumur 18 hari sebanyak
30 ekor/kolam untuk diukur panjang dan bobot tubuh larva, laju pertumbuhan dan
tingkat kelulushidupannya seperti terlihat pada Gambar 6 berikut.
|
(a)
(b) (c)
|
Gambar 6. Sampling
larva (a) dan dimasukkan ke wadah untuk diukur (b) dan larva ikan ditimbang
dengan timbangan analitik (c) .
Pada sampling yang
dilakukan saat larva 10 hari dan 18 hari diukur panjang tubuh larva dan
menimbang bobot tubuh larva, data pengukuran panjang dan bobot tubuh larva
tertera pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Perkembangan panjang dan bobot
larva ikan Mas pada kolam tanah
|
Kolam
|
Kelompok Umur
|
|||||
|
Umur 3 hari
(awal ditebar)
|
Umur 10 hari
|
Umur 18 hari
|
||||
|
Panjang
(cm)
|
Berat
(g)
|
Panjang
(cm)
|
Berat
(g)
|
Panjang
(cm)
|
Berat
(g)
|
|
|
H1
H2
H3
|
0,6
0,6
0,7
|
0,0038
0,0038
0,0038
|
1,58
1,54
1,62
|
0,104
0,091
0,103
|
1,85
1,67
1,93
|
0,17
0,13
0,17
|
Pada Tabel 4
menunjukkan bahwa perkembangan panjang dan bobot larva ikan Mas berbeda pada
setiap kolamnya. Dari data diatas dapat dilihat bahwa pertambahan panjang dan
bobot tubuh larva yang tinggi didapat pada kolam H3 dimana panjang tubuhnya
lebih besar dari kolam H1 dan H2. Sementara jika dilihat dari pertambahan
panjang dan bobot tubuh larva dari pertama ditebar hingga seminggu pemeliharaan
didapat pertumbuhan yang optimal yaitu dari 0,6 cm hingga 1,58 cm dan bobot
tubuh dari 0,0038 gram hingga 0,104 gram. Namun pada pemeliharaan seminggu
berikutnya didapat pertumbuhan pada larva tidak seoptimal pada pemeliharaan
sebelumnya, dimana pada pemeliharaan 18 hari larva hanya dapat berkembang dari
panjang tubuh 1,58 cm hingga 1,85 cm dan bobot tubuh dari 0,104 gram hingga
0,17 gram. Selisih nilai pertumbuhan larva pada pemeliharaan minggu 1 lebih
tinggi dari nilai pertumbuhan larva pada pemeliharaan minggu 2.
Untuk melihat
perkembangan panjang dan bobot tubuh larva ikan Mas di BBPBAT Sukabumi dapat
dilihat pada Gambar 7 dan 8 berikut.
Gambar
7. Grafik perkembangan panjang tubuh larva ikan Mas di kolam tanah
Gambar
8. Grafik perkembangan bobot tubuh larva ikan Mas di kolam tanah
Pada Gambar 7
menunjukkan perkembangan panjang tubuh larva ikan Mas mengalami kenaikan yang
terus meningkat dan pada umur 10 hari hingga 18 hari mengalami peningkatan yang
cenderung stabil.
Pada Gambar 8
menunjukkan bahwa perkembangan bobot tubuh larva ikan Mas mengalami kenaikan
yang terus meningkat. Hal ini dikarenakan tercukupinya kebutuhan nutrisi larva
selama pemeliharaan.
Perbedaan panjang dan
bobot tubuh larva ini juga dapat disebabkan oleh padat tebar. Padat tebar pada
kolam sangat tinggi larva akan bersaing untuk mendapatkan makanan dan lahan
yang sempit akan mengakibatkan ikan stress sehingga nafsu makan hilang dan
pertumbuhan ikan pada kolam akan lambat. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (2006) dalam
Widiastuti (2009) pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kepadatan ikan. Semakin
tinggi kepadatan maka pertumbuhan semakin rendah, namun produksi tinggi.
Sedangkan semakin rendah kepadatan maka pertumbuhan semakin tinggi namun
produksi rendah.
Selain perkembangan
panjang dan bobot tubuh larva, dilakukan juga pengukuran laju pertumbuhan larva
pada Tabel 5 berikut.
Tabel
5. Laju Pertumbuhan larva ikan Mas di kolam tanah
|
No
|
Parameter yang Diukur
|
Kolam
|
Umur 10 hari
(%)
|
Umur 18 hari
(%)
|
|
1
Rataan
|
LPH
|
H1
H2
H3
|
47,25
45,35
47,12
46,57
|
25,33
23,54
25,33
24,73
|
|
2
Rataan
|
LPM
|
H1
H2
H3
|
42,94
37,37
42,51
40,94
|
33,24
25,24
33,24
30,57
|
Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa LPH pada larva ikan
dikolam tanah (H1,H2,H3) saat berumur 10 hari didapat 45,35-47,25 % dan LPM 37,37%,
saat berumur 18 hari 23,54-25,33% dan
LPM 25,24-33,24%.
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan dapat diketahui bahwa
masing-masing kolam mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Hal
ini dikarenakan setiap ikan harus bersaing dalam mendapatkan makanan yang
diberikan dan dalam ruang gerak yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi sehingga
hal ini tampak dapat mempengaruhi pertumbuhan dari ikan tersebut.
Pakan yang cukup dan
pemberian pakan yang baik juga penting untuk pertumbuhan larva. Di BBPBAT pemberian
pakan dilakukan dengan frekuensi 2 kali sehari sementara, Menurut Sitanggang (2000) pemberian pakan larva ikan
mas sebaiknya adalah dalam jumlah sedikit tetapi sering, biasanya 3-4 kali.
Memberi pakan lebih sering dengan jumlah yang sedikit akan lebih baik jika
dibandingkan dengan memberi pakan dengan frekuensi yang lebih sedikit dengan
jumlah yang banyak. Hal inilah salah satu yang menyebabkan
bahwa pertumbuhan larva lambat.
Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kelulushidupan ikan Mas seperti
kualitas air, pakan yang diberikan dan padat tebar. Tingkat
kelulushidupan benih diperoleh setelah menghitung jumlah benih saat panen
dilakukan. SR (Survival Rate)
dihitung dengan cara membagi jumlah akhir benih dengan jumlah larva awal
ditebar lalu dikalikan 100 %. Untuk melihat persentasi SR larva pada
masing-masing kolam dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Tingkat kelulushidupan (SR) larva pada kolam pemeliharaan ikan Mas
|
Kolam
|
Jumlah larva yang Ditebar
(ekor)
|
Jumlah Benih
yang Dipanen (ekor)
|
SR (%)
|
SNI*
(SR %)
|
|
H1
H2
H3
Rataan
|
250.000
250.000
250.000
|
124.416
89.232
39.330
|
49,76
35,00
15,73
33,49
|
60-80
|
Keterangan
: *SNI: 01-6133-1999 tentang Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio L) strain Majalaya kelas benih sebar
Pada Tabel 6
menunjukkan bahwa persentasi tertinggi didapat pada kolam H1 yaitu 49,76% dan terendah
pada kolam H3 yaitu 15,73%. Dilihat dari rerata SR pada pemeliharan larva di
kolam tanah yaitu 33,49% jika dibandingkan dengan SR larva ikan mas menurut SNI
tergolong kurang baik sehingga teknik pemeliharaan larva di BBPBAT perlu
dilakukan dengan optimal agar SR yang diinginkan dapat tercapai dengan baik.
Rendahnya SR larva
dapat disebabkan oleh padat tebar dimana semakin tinggi kepadatan dalam media
pemeliharaan persentase kelulushidupan akan semakin menurun, hal ini diduga
kerena kepadatan mengakibatkan persaingan untuk mendapatkan makanan semakin
sulit. Selain padat tebar, penanganan saat pemindahan larva dari hapa ke kolam
tanah dan penanganan saat panen juga mempengaruhi kelulushidupan larva dimana
larva mengalami stres yang mengakibatkan kematian serta hama dan predator yang
biasa menyerang larva ikan Mas yaitu biawak,
ular, linsang, kodok, beberapa jenis burung (misalnya burung blekok, burung
kuntul, dan burung bangau) dan kelompok hewan air berukuran kecil seperti
ucrit, notonecta dan kini-kini (Khairuman dkk., 2008).
4.3
Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air digunakan
sebagai indikator bahwa perairan yang digunakan masih dalam kisaran toleransi
untuk kegiatan budidaya. Adapun parameter kualitas air yang dikaji adalah DO,
CO2, Suhu, pH, Amoniak dan Nitrit seperti tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7.
Parameter Kualitas Air pada Kolam Pemeliharaan Larva Ikan Mas
|
No
|
Parameter
|
Wadah Pemeliharaan/Kolam Larva
|
Standar*
|
||
|
H1
|
H2
|
H3
|
|
||
|
1
|
DO (mg/L)
|
5,36
|
5,14
|
4,95
|
>2 mg/L
|
|
2
|
CO2
(mg/L)
|
36,6
|
23,8
|
31,1
|
0-12 mg/L
|
|
3
|
Suhu (0C)
|
24,4
|
24,7
|
24,7
|
26-280C
|
|
4
|
pH
|
7,23
|
7,31
|
7,03
|
6,5-8,5
|
|
5
|
Amoniak (mg/L)
|
0,31
|
0,17
|
0,52
|
<0,02 mg/L
|
|
6
|
Nitrit
(mg/L)
|
0,52
|
0,34
|
0,41
|
<0,1 mg/L
|
Keterangan :
*sumber Atmadja Hardjamulia, 1988 (dalam Khairuman, dkk, 2008)
Pada Tabel 7
menunjukkan bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) dan karbondioksida (CO2)
pada kolam pemeliharaan berkisar antara 4,95-5,36 mg/L dan 23,8-36,6 mg/L,
dimana kandungan oksigen terlarut ini tergolong cukup baik karena menurut
Khairuman, dkk (2008) DO yang paling ideal untuk pertumbuhan ikan Mas adalah
lebih dari 2 mg/L dan kandungan karbondioksida pada kolam pemeliharaan
tergolong tidak baik karena menurut Khairuman, dkk (2008) CO2 yang
paling ideal untuk pertumbuhan ikan Mas adalah lebih dari 0-12 mg/L .
pH air berkisar antara berkisar
antara 7,03-7,31, hasil dari pengukuran ini tergolong baik pada larva ikan Mas
dimana larva masih dapat menyesuaikan diri terhadap pH yang terdapat pada kolam
pemeliharaan, karena menurut Khairuman, dkk (2008) menyatakan umumnya ikan
dapat beradaptasi pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH)
berkisar antara 6,5-8,5. Kualitas
air merupakan salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan
hidup ikan.
Suhu berkisar antara 24,4-24,70C,
dari hasil pengukuran ini tergolong cukup baik untuk habitat larva ikan Mas,
karena (Murtidjo, 2001) mengemukakan bahwa temperatur yang ideal untuk
budidaya ikan Mas (C. carpio) adalah pada suhu antara 24-280C.
Sedangkan untuk kandungan nitrit pada kolam
pemeliharaan berkisar antara 0,34-0,52 mg/L dan amoniak berkisar antara
0,17-0,52, hasil pengukuran ini tergolong tidak baik bagi pertumbuhan
ikan. (Khairuman,
dkk, 2008) mengatakan kadar
nitrat pada kolam pemeliharaan kurang dari 0,1 mg/L dan kadar amoniak kurang
dari 0,02 mg/L. kandungan nitrat dan amoniak ini berasal dari sisa-sisa pakan
dan kotoran ikan yang mengendap didasar kolam.
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Teknik pemeliharaan
ikan Mas di BBPBAT Sukabumi Jawa Barat dapat dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut :
1. Tahapan
pemeliharaan larva yang meliputi
persiapan wadah (pengeringan kolam, pembalikan tanah kolam, pengapuran,
pemupukan), pemberian pakan, pengukuran pertumbuhan larva, pengelolaan kualitas
air serta hama dan penyakit larva.
2. Pada
kolam tanah perkembangan larva ikan Mas berumur 10 hari mencapai ukuran panjang
tubuh 1,58 cm dan berat 0,09 gram, larva berumur 18 hari mencapai ukuran
panjang tubuh 1,8 cm dan berat 0,15 gram.
3. LPH
larva ikan Mas berumur 10 hari mencapai 46,57%, larva berumur 18 hari mencapai
24,73%. LPM larva ikan Mas berumur 10 hari mencapai 40,94% dan larva berumur 18
hari mencapai 30,57
4. Survival Rate
(SR) pada pemeliharaan larva selama 18 hari di kolam tanah yaitu 33,49%.
5.2.
Saran
Dari kegiatan pemeliharaan larva ikan Mas di Balai Besar
Perikanan Budidaya Air Tawar ( BBPBAT) Sukabumi Jawa Barat ada beberapa saran
yaitu:
1.
Sebaiknya pemeliharaan larva dilakukan
di kolam beton agar terhindar dari hama sehingga laju pertumbuhan dan tingkat
kelulushidupan larva tinggi.
2.
Jika memang pemeliharaan larva dilakukan
di kolam tanah maka perlu dilakukan penjagaan seperti memasang pagar pada sisi-sisi
kolam agar predator dapat diminimalisir kemudian sumber air juga perlu diperhatikan.
Diharapkan air yang akan dipakai untuk pemeliharaan larva dengan air yang
bersih.
3.
Pemberian pakan pada larva ikan Mas di
BBPBAT Sukabumi sebaiknya dapat dilakukan 3-4 kali sehari dalam jumlah pakan
yang sedikit agar pertumbuhan larva lebih optimal.