Minggu, 04 Maret 2018

Makalah Akhlak Mahmudah Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyahda Keguruan UNIKS Kuantan Singingi




AKHLAK AL-MAHMUDAH
Contoh Akhlak Al-Mahmudah
Amanah menurut arti bahasa ialah : kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan (tsiqah) atau kejujuran. Kebalikannya ialah khianat. Yang dimaksud amanah disini ialah suatu sikap pribadi yang setia, tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, berupa harta benda, rahasia atau tugas kewajiban. Pelaksanaan amanat dengan baik dapat disebut “al-Amin” yang berarti : yangndapat dipercaya, yang jujur, yanag setia, yang aman. Sebagai contoh : Pada diri manusia dianugerahi Allah sejumlah perlengkapan jasmaniah dan ruhaniah tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya, maka berarti orang itu bersifat atau meiliki sifat amanah. Jika anggota-anggota tubuhnya dipergunakan kepada maksiat berarti dia khianat terhadap amanah yang diberikan Allah kepadanya. Kewajiban memilki sifat dan sikap al-Amanah ini, (QS. An-Nisa’ (4): 58.
 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تـُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بـَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.



      Gambar 1.1 Amanah

       Gambar 1.1 amanah
 



2. Benar (ash-Shidqah) Salah satu sifat dan sikap yang termasuk fadlilah ialah ash-Shidqah yang berarti benar, jujur. Yang dimaksud disini ialah berlaku benar dan jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kewajiban bersifat dan bersikap ini, (QS. At-Taubah (9) : 119).
 يَا أَيـُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتـَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. Sikap benar ini adalah salah satu fadlilah yang menentuka status dan kemajuan perseorangan dan masyarakat.
Menegakkan prinsip kebenaran adalah salah satu sendi kemaslahatan dalam hubungan antara manusia dengan manusia dan antara satu golongan dengan golongan lainnya. Abdullah bin Mas’ud r.a. memberitahukan bahwa Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepadaa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surge. Seseorang yang membiasakan diri berkata benar hingga tercatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang benar). (Muttafaq ‘Alaih). Abu Muhammad (al-Hasan) bin Abi Thalib ra. berkata bahwa ia telah menghafal dari ajaran Rasulullah SAW : “Tinggalkanlah yang engkau ragukan kepada apa yang tidak engkau ragukan. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada ketenangan dan dusta itu membawa? Menimbulkan keraguan”. (HR. at-Tirmidzi). Dalam pribahasa sering disebutkan :”Berani karena benar, takut karena salah”. Betapa kebenaran itu menimbulkan ketenangan daripadanya melahirkan keberanian. Rasulullah SAW telah memberikan contoh betapa beraninya berjuaang karena beliau berjalan di atas prinsip-prinsip kebenaran. Ketika surat Rasulullah SAW diterima oleh Heraclius, Raja Rum dari Baitul Muqaddas, ia panggil orang-orang Arab yang berasal dari Mekkah yang kebetulan berdagang kesitu untuk ditanyai mengenai diri Nabi. Dalam percakapan tersebut, Heraclius berkata:”……. Aku bertanya tadi, adakah kamu tuduh Muhammad pernah berdusta sebelum ia mengaku menjadi Nabi? Lantas kamu jawab : Tidak! Maka aku berpendapat, bahwa orang yang tidak berdusta kepada manusia tidak bisa jadi berdusta atas nama Allah”.

    Gambar 1.2 benar
 







3. Menepati Janji (al-Wafa’)
Sebagai rangkaian dari sifat amanah dan benar tersebut diatas adalah al-Wafa’ (menepati janji), sebagaimana dalam QS. Al-Ahzab (33): 23.
 مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنـْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنـْهُمْ مَنْ يـَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تـَبْدِيلا
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),

   Gambar.1.3 menepati janji
 




CONTOH AKHLAQUL MAZMUMAH
Contoh Sifat Mazmumah (Tercela) yaitu:
1.      Penyakit hati antara lain disebabkan karena ada perasaan iri:
Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau keberuntungan. Sikap ini kemudian menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul perselisihan, permusuhan, pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah Qabil dan Habil
Iri hanya diperbolehkan dalam 2(dua)  hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهْوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا.
“Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud, Shahîh al-Bukhâriy, I/28, hadits no. 73) 

        Gambar 2.1 iri
 





2.      Penyakit hati disebabkan karena perasaan dengki.
Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini berkaitan dengan sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan, menjatuhkan nama baik orang lain.
Allah melarang diri kita untuk menjadi manusia yang bersikap sombong, sebagaimana firmanNya:
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا
“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [QS Al-Isrâ’/17: 37]




       Gambar 2.2 Dengki

 


3.                  Sombong
Sering – seseorang — karena jabatan, kekayaan, atau pun kepintarannya,  akhirnya menjadiseseorang yang bersikap sombong dan menganggap rendah orang lain. Bahkan Fir’aun yang bersikaptakabbur(sombong) sampai-sampai menganggap rendah Allah dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kenyataannya Fir’aun adalah manusia yang akhirnya bisa mati karena kesombongannya. Dia – atas kehendak Allah — tenggelam di laut.
Allah melarang diri kita untuk menjadi manusia yang bersikap sombong, sebagaimana firmanNya:
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا
“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [QS Al-Isrâ’/17: 37]

        Gambar 2.3
 







Yang dimaksud dengan “Akhlaqul mahmudah” ialah segala tingkah laku yang terpuji (yang baik) yang biasa juga dinamakan “fadilah” (kelebihan). Imam al-Ghazali menggunakan guna perkataan “munjiyat” yang berarti segala sesuatu yang memberikan kemenangan atau kejayaan. Sebagai kebalikan akhlaqul mahmudah ialah “akhlaqul mazmumah” yang berarti tingkah laku yang tercela atau akhlak yang jahat (qabillah) yang menurut istilah al-Ghazali disebutnya “muhlikat” artinya sesuatu yang membinasakan atau mencelakakan. Akhlak mahmudah dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah dan akhlak yang mazmumah dilahirkan oleh sifat-sifat mazmumah pula
 Oleh karena itu, maka dalam pembahasan fadlilah dan qabihah dititik beratkan pada pembahasan sifat-sifat yang terpendam dalam jiwa manusia yang menelorkan perbuatan- perbuatan lahiriah. Tingkah laku lahir dilahirkan tingkah laku batin, berupa sifat dan kelakuan batin yang juga dapat berbolak balik yang mengakibatkan berbolak baliknya perbuatan jasmani manusia. Oleh karena tindak tanduk batin (hati) itupun dapat berbolak balik, maka tepatlah dengan do’a :”Wahai Allah yang memalingkan segala hati, palingkanlah kalbu kami kepada mematuhi Engkau”.
(QS.Hud (11):114. وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النـَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.



KESIMPULAN
Perbuatan yang baik merupakan akhlaq karimah yang wajib dikerjakan.Akhlaq karimah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Akhlaq al karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji. Akhlak yang baik disebut juga dengan akhlakmahmudah. Pandangan al-Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato yang mengatakan, bahwa orang adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus. Al-Ghazali memandang orang yang dekat kepada Allah adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna.
Al-Ghazali menerangkan adanya empat pokok keutamaan akhlak yang baik, yaitu sebagai berikut :
1.      Mencari hikmah. Hikmah ialah keutamaan yang lebih baik.
2.      Bersikap berani. Berani berarti sikap yang dapat mengendalikan kekuatan amarahya dengan akal untuk maju.
3.      Bersuci diri. Suci berarti mencapai fitrah, yaitu sifat yang dapat mengendalikan syahwatnya dengan akal dan agama.
4.      Berlaku adil. Adil sebagai misalnya, yaitu seseorang yang dapat membagi dan memberi haknya sesuai dengan fitrahnya atau seseorang mampu menahan kemarahannya dan nafsu syahwatnya untuk mendapatkan hikmah di balik peristiwa yang terjadi.
Akhlak madzmumah ialah perangai buruk yang tercermin dari tutur kata, tingkah laku dan sikap yang tidak baik. Akhlak buruk adalah suatu sifat tercela dan dilarang oleh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.Apabila seseorang melaksanakannya niscaya akan mendapatkan nilai dosa dari Allah, karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang tercela di hadapan Allah.
Melakukan perbuatan yang tecela dapat merugikan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Contoh dari akibat perbuatan tercela adalah sebagai berikut:
1.      Jika seseorang suka mencaci, maka suatu ketika ia akan dicaci orang pula.
2.      Jika seseorang suka berdusta, suatu saat jika ia berkata benar, orang lain akan tetap tidak percaya, dan ia juga akan dibohongi orang lain.
3.      Hatinya tidak pernah tentram dan bahagia karena kesalahan dan keserakahannyatakut terbongkar oleh orang lain.
4.      Apa yang dicita-citakan tidak akan terkabul, kecuali hanya kejahatan yang mengikuti dirinya.


1 komentar:

  1. Fair Play Casino Review (2021) | The xN - NYX
    Fair Play Casino is an online febcasino casino that allows septcasino players to wager their 메리트 카지노 고객센터 real money. All their games are streamed on their mobile phones, on

    BalasHapus